BUDAPEST, HUNGARIA – Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban memperingatkan dunia internasional tentang meningkatnya risiko pecahnya Perang Dunia Ketiga, seiring memanasnya konflik global dan perubahan arah kebijakan para pemimpin Eropa. Orban menilai Eropa saat ini bergerak menjauh dari jalur diplomasi dan semakin dekat pada konfrontasi terbuka dengan Rusia.
Dalam pidatonya pada demonstrasi anti-perang di Miskolc, Sabtu (17/1/2026), Orban mengklaim para pemimpin Uni Eropa telah membentuk semacam “dewan perang” yang secara khusus membahas skenario konflik global berskala besar. Ia menyebut pertemuan tingkat tinggi yang dihadiri pemimpin 27 negara anggota Uni Eropa tidak lagi berfokus pada perdamaian, melainkan pada strategi militer.
“Saya duduk di antara mereka, dan saya katakan dengan tegas bahwa mereka sedang bersiap untuk berperang,” ujar Orban, seperti dikutip International Business Times. Menurutnya, diskusi tersebut didominasi negara-negara besar seperti Prancis dan Jerman, dengan agenda utama berupa upaya menekan dan “menaklukkan Rusia”.
Orban mengungkapkan, strategi yang dibahas mencakup pemaksaan pembayaran ganti rugi perang oleh Moskow, penarikan kembali dana miliaran dolar yang telah dikucurkan untuk Ukraina, serta langkah-langkah militer lanjutan. Ia memperingatkan bahwa kombinasi tekanan finansial dan manuver militer tersebut berpotensi menjadi pemicu konflik yang jauh lebih luas. “Mereka bukan anak-anak. Apa yang sedang direncanakan sangat serius dan berbahaya,” tegasnya.
Di tengah situasi tersebut, Orban menegaskan sikap Hungaria yang menolak terlibat dalam eskalasi perang. Ia menyatakan pemerintahannya tidak akan mengirim pasukan maupun dana ke garis depan dan akan menentang setiap keputusan Uni Eropa yang mendorong keterlibatan langsung dalam konflik.
Pernyataan Orban muncul di tengah ketegangan geopolitik global yang kian kompleks, termasuk perang Rusia–Ukraina yang belum mereda serta gesekan baru di dalam aliansi NATO akibat pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait Greenland. Sejumlah pemimpin dunia, termasuk Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, sebelumnya juga menyuarakan kekhawatiran serupa mengenai potensi pecahnya perang dunia.
Meski klaim Orban dibantah oleh pejabat Uni Eropa yang menyebut langkah-langkah tersebut bersifat defensif dan kemanusiaan, Orban tetap bersikukuh bahwa Eropa sedang bergerak ke arah yang salah. Ia menyerukan agar diplomasi dan upaya pencegahan perang kembali menjadi prioritas utama sebelum dunia terseret ke konflik global yang lebih besar.