JAKARTA – Dengan populasi mencapai seperempat penduduk dunia, negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) diyakini memiliki pengaruh besar dalam mendorong solusi atas berbagai isu global, termasuk perjuangan kemerdekaan Palestina.
Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI, Irine Yustiana Roba Putri, menegaskan bahwa kekuatan kolektif parlemen OKI harus digunakan untuk menyuarakan keadilan secara lantang di forum internasional.
Dalam Konferensi Persatuan Parlemen Negara OKI (PUIC) yang digelar di Jakarta, forum tersebut menunjukkan kekompakan negara-negara Islam dalam menghasilkan berbagai resolusi penting, termasuk Jakarta Declaration yang menjadi sorotan utama.
Irine menyebut konferensi ini bukan hanya momentum, melainkan titik balik bagi negara-negara Islam untuk membangun peran strategis dalam geopolitik global.
Melalui forum yang dihadiri hampir 500 delegasi dari 37 negara anggota OKI, termasuk pengamat internasional, Indonesia memantapkan posisi sebagai pemimpin yang vokal dan berpengaruh di ranah diplomasi Islam.
Deklarasi Jakarta menjadi manifestasi nyata dari semangat kolektif parlemen OKI untuk memperkuat perdamaian, keadilan, dan inklusivitas dalam sistem global.
Komitmen Kolektif OKI dalam Isu Palestina
Irine menegaskan bahwa forum PUIC memiliki kekuatan besar untuk mendorong resolusi global, terutama dalam menyuarakan perjuangan kemerdekaan Palestina.
Ia menyoroti fakta bahwa populasi negara OKI mencakup 25 persen dari total populasi dunia, menjadikannya kekuatan yang tak bisa diabaikan.
“Jadi kita bisa tunjukkan kepada dunia kalau negara-negara OKI ini memang kuat dan berdaya untuk melakukan perubahan baik kepada tatanan dunia, termasuk isu Palestina,” terangnya dalam keterangan tertulis kepada Parlementaria.
Sebagai tuan rumah Konferensi PUIC, Indonesia memainkan peran penting dalam memperkuat suara negara-negara Islam.
Menurut Irine, forum ini menyepakati bahwa parlemen anggota OKI akan tampil lebih lantang dan kompak dalam menyuarakan kepentingan bersama, termasuk solidaritas terhadap Palestina.
“Lewat Konferensi PUIC di mana DPR menjadi tuan rumah, negara-negara OKI sepakat akan bersuara lebih lantang dan nyaring lagi… Dan Indonesia sebagai Ketua akan punya banyak peranan,” imbuhnya.
Rangkaian acara PUIC pada 12-15 Mei lalu membahas isu-isu penting seperti pemuda, perempuan, Palestina, pembangunan berkelanjutan, minoritas Muslim, hingga urusan budaya dan politik.
Isu Palestina tetap menjadi salah satu topik sentral, mencerminkan konsistensi agenda bersama parlemen Islam.
Deklarasi Jakarta: Tonggak Diplomasi Islam Global
Konferensi ini menghasilkan 17 resolusi strategis yang terangkum dalam Jakarta Declaration.
Salah satunya menekankan pentingnya solusi damai atas konflik Palestina dan seruan penghentian kekerasan di berbagai negara.
Deklarasi ini juga memperkuat prinsip-prinsip tata kelola yang baik, akuntabilitas, transparansi, dan supremasi hukum dalam membangun institusi kuat.
Deklarasi Jakarta turut mendorong negara-negara OKI untuk memperkuat softpower melalui pendidikan, pemberdayaan perempuan dan pemuda, serta kampanye melawan Islamofobia.
Tujuannya adalah membentuk citra Islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil-alamin).
Kepemimpinan Indonesia, terutama peran Puan Maharani sebagai Ketua DPR RI, mendapat apresiasi luas dari para delegasi.
Delegasi Nigeria, Kamorudeen Olarere Oyewumi, secara terbuka memuji kepemimpinan Puan, yang telah menorehkan sejarah sebagai perempuan pertama yang memimpin parlemen Indonesia dan aktif di panggung internasional.
“Ini keuntungan penguasaan terhadap para pemimpin di PUIC. Anda diberkati secara umum. Anda sangat baik dalam kebijaksanaan Anda,” ujar Oyewumi.
“Karena Anda adalah satu-satunya di pemerintahan Indonesia sebagai Menteri Koordinator untuk tujuh menteri penting di negara ini dan telah menjadi Pemimpin Parlemen dua kali,” tutupnya.***