RIO DE JANERIO, BRAZIL – KTT BRICS ke-17 yang digelar di Rio de Janeiro, Brasil, pada 6–7 Juli 2025 menjadi panggung bersejarah bagi Indonesia. Sebagai anggota baru BRICS, Indonesia tidak hanya menegaskan peran strategisnya di kancah global, tetapi juga menghidupkan kembali semangat Dasasila Bandung—prinsip luhur yang lahir 70 tahun lalu di Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955. Dalam forum ini, Indonesia mengusung misi perdamaian dan keadilan global, sekaligus memperjuangkan reformasi tata kelola dunia.
Semangat Bandung di Panggung BRICS
Di tengah ketegangan geopolitik global, Dasasila Bandung—yang lahir dari KAA 1955 di Bandung—kembali menjadi sorotan. Konferensi tersebut, yang menyatukan 29 pemimpin negara bekas jajahan seperti Soekarno, Nehru, Nasser, dan Zhou Enlai, menegaskan penolakan terhadap kolonialisme dan dominasi global.
“Mewakili lebih dari separuh populasi dunia, KAA menjadi deklarasi bahwa bangsa Asia dan Afrika menolak kolonialisme dan tidak akan lagi menjadi penonton sejarah,” ujar Presiden Soekarno kala itu.
Dasasila Bandung, dengan 10 prinsip moralnya seperti kedaulatan, hidup berdampingan secara damai, dan non-intervensi, menjadi cikal bakal Gerakan Non-Blok dan perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa terjajah. Semangat ini kini dihidupkan kembali oleh Indonesia di KTT BRICS 2025.
Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva, dalam pembukaan rapat pleno KTT BRICS di Museum Seni Modern Rio De Janeiro, menegaskan bahwa BRICS adalah perwujudan modern dari semangat non-blok Bandung.
“BRICS menghidupi semangat Bandung,” kata Lula, menekankan bahwa aliansi ini menolak dominasi kekuatan besar dunia.
Debut Mentereng Indonesia di BRICS
Kehadiran Presiden Prabowo Subianto bersama delegasi Indonesia disambut istimewa oleh tuan rumah dan anggota BRICS lainnya. Delegasi tersebut terdiri dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Wakil Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir, Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Indonesia, yang resmi bergabung sebagai anggota ke-10 BRICS per Januari 2025, membawa komposisi geopolitik yang lebih inklusif ke dalam aliansi ini.
Dalam sidang pleno bertema *“Perdamaian, Keamanan, dan Reformasi Tata Kelola Global,”* Presiden Prabowo menegaskan komitmen Indonesia untuk mendorong multilateralisme yang adil.
“Indonesia menolak perang dan standar ganda,” tegasnya, seraya mengajak BRICS memperjuangkan keterwakilan Global South dalam tata kelola global, termasuk di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Kritik atas Krisis Global dan Standar Ganda
KTT BRICS 2025 menyoroti kegagalan lembaga global seperti PBB dan Dewan Keamanan dalam menangani krisis multilateralisme. Menurut Lula,
“Lebih mudah mengalokasikan 5 persen PDB untuk militer daripada memenuhi janji 0,7 persen untuk pembangunan.”
Forum ini juga mengkritik standar ganda dalam menangani konflik global, seperti di Timur Tengah, Ukraina, dan Iran, serta pelanggaran hukum internasional tanpa legitimasi.
Isu genosida di Gaza menjadi perhatian serius. BRICS menegaskan urgensi solusi dua negara berdasarkan perbatasan 1967 untuk menyelesaikan konflik Palestina-Israel. Krisis kemanusiaan di wilayah seperti Haiti juga disorot, dengan kecaman terhadap pengabaian komunitas internasional terhadap wilayah-wilayah krisis.
BRICS mengusulkan reformasi menyeluruh Dewan Keamanan PBB, termasuk penambahan anggota tetap dari ASEAN, Amerika Latin, dan Karibia, untuk menciptakan sistem yang lebih representatif dan adil.
Komitmen Indonesia untuk Perdamaian dan Keadilan
Dalam sesi pleno tertutup, Menko Airlangga Hartarto menyampaikan visi Presiden Prabowo untuk memperkuat multilateralisme dan keadilan global. Indonesia, sebagai pewaris Dasasila Bandung, berkomitmen mendorong perdamaian dunia dan mendukung kemerdekaan Palestina.
“BRICS harus menjadi pelopor kepemimpinan multilateral yang berpedoman pada Dasasila Bandung,” ujar Prabowo.
Indonesia juga mendukung penuh *Leaders’ Declaration* KTT BRICS 2025, yang menekankan penguatan multilateralisme, reformasi tata kelola global, stabilitas internasional, serta kerja sama ekonomi, perdagangan, dan keuangan. Kehadiran Indonesia di BRICS memperkuat suara negara-negara berkembang dalam membangun tatanan dunia yang lebih adil.
Warisan Dasasila Bandung di Era Modern
Dasasila Bandung tetap relevan sebagai inspirasi global untuk nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian. Dengan bergabungnya Indonesia di BRICS, semangat Bandung kini bergema di panggung dunia, memperjuangkan kedaulatan, keadilan, dan solidaritas antarnegara. KTT BRICS 2025 menjadi bukti bahwa Indonesia siap memimpin perubahan menuju tatanan global yang lebih inklusif dan damai.