JAKARTA – Presiden Turkiye, Recep Tayyip Erdogan, menyambut positif tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang difasilitasi oleh perundingan di Sharm el-Sheikh, Mesir. Dalam pernyataan yang dipublikasikan melalui platform media sosial Turkiye, Erdogan menyatakan rasa syukurnya atas berakhirnya kekerasan di Gaza yang telah memakan banyak korban jiwa.
“Saya sangat senang bahwa perundingan Hamas-Israel yang juga melibatkan Turkiye telah berakhir dengan gencatan senjata di Gaza,” ujar Erdogan, dikutip dari Anadolu, Minggu (12/10/2025). Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Presiden AS, Donald Trump, yang telah memainkan peran penting dalam mendorong Israel untuk menyetujui kesepakatan tersebut, serta kepada negara-negara sahabat, Qatar dan Mesir, atas dukungan mereka.
Erdogan menegaskan bahwa Turkiye akan terus memantau pelaksanaan kesepakatan gencatan senjata dengan seksama dan berkomitmen untuk berkontribusi dalam proses perdamaian yang lebih luas di wilayah tersebut.
Turkiye, menurut Erdogan, akan terus mendukung perjuangan rakyat Palestina untuk membangun negara yang merdeka dan berdaulat, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya, berdasarkan perbatasan 1967. “Kami akan terus memperjuangkan hak-hak Palestina, termasuk mendukung mereka dalam mendapatkan pengakuan internasional atas negara mereka,” tambah Erdogan.
Presiden Turkiye juga mengungkapkan simpati mendalam kepada rakyat Palestina yang telah mengalami penderitaan luar biasa akibat konflik ini. Ia menyatakan, “Saya menyampaikan salam tulus saya kepada saudara-saudari Palestina saya, yang telah menanggung penderitaan tak terlukiskan selama dua tahun, berjuang untuk hidup dan martabat, dan yang, meskipun menghadapi tragedi besar, tidak pernah mengubah pendirian mereka.”
Kesepakatan gencatan senjata ini merupakan bagian dari rencana perdamaian 20 poin yang diumumkan pada 29 September lalu, yang mencakup pembebasan tawanan Israel dengan imbalan tahanan Palestina, pelucutan senjata Hamas, serta upaya rekonstruksi Gaza yang hancur akibat serangan berkelanjutan.
Sejak awal Oktober 2023, konflik ini telah menewaskan hampir 67.200 warga Palestina, sebagian besar di antaranya adalah perempuan dan anak-anak. Selain menimbulkan korban jiwa, serangan yang tiada henti juga telah merusak infrastruktur di Gaza, menyebabkan kelaparan dan penyakit yang meluas di wilayah tersebut.