JAKARTA – Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel, menegaskan dirinya tidak akan mengundurkan diri di bawah tekanan Amerika Serikat.
Dalam wawancara televisi pertamanya yang dilansir The Guardian, Jumat (10/4/2026), dengan stasiun penyiaran Amerika, Diaz-Canel menyatakan, “Kita memliki negara berdaulat yang bebas, negara yang merdeka. Kita memiliki penentuan nasib sendiri dan kemerdekaan, dan kita tidak tunduk pada rencana Amerika Serikat.”
Diaz-Canel menambahkan bahwa pemerintah AS tidak memiliki legitimasi moral untuk menuntut apa pun dari Kuba. “Konsep kaum revolusioner menyerah dan mengundurkan diri – itu bukan bagian dari kosakata kita,” tegasnya.
Washington diketahui melancarkan kampanye tekanan terhadap Kuba dengan blokade minyak virtual, termasuk ancaman tarif bagi negara yang menjual minyak ke Havana. Krisis energi semakin parah sejak pasokan utama dari Venezuela terhenti setelah AS menangkap Nicolás Maduro.
Janji Ruisa untuk Kuba
Di tengah ketegangan, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov berkunjung ke Kuba dan menegaskan dukungan penuh Moskow. “Kita tidak bisa mengkhianati Kuba. Itu tidak mungkin. Kita tidak bisa meninggalkannya sendirian,” ujarnya.
Ryabkov menekankan bahwa bantuan Rusia akan melampaui pengiriman minyak, menyebut blokade AS sebagai tindakan ilegal dan tidak dapat diterima.
Pada akhir Maret, kapal tanker Anatoly Kolodkin membawa 730.000 barel minyak mentah ke Kuba, menandai pengiriman pertama dalam tiga bulan. Meski pemerintahan Trump sempat mengancam tarif, kapal tersebut tetap diizinkan melanjutkan perjalanan.
Kuba sendiri hanya mampu memproduksi 40 persen kebutuhan bahan bakarnya, sehingga ketergantungan pada impor, terutama dari Venezuela dan Rusia, masih sangat tinggi.