JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya kewaspadaan tinggi di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Meski kondisi domestik Indonesia saat ini relatif aman, ia meminta seluruh anggota Kabinet Merah Putih tidak lengah dan harus mempersiapkan diri menghadapi skenario terburuk.
“Saya kira itu yang ingin saya sampaikan. Walaupun kita merasa aman dan tidak panik, kita juga tidak boleh terlalu lengah. Kita harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan paling buruk,” kata Prabowo.
Ia menambahkan, meskipun berharap situasi tidak memburuk, berbagai prediksi menunjukkan konflik tersebut berpotensi berlangsung lama.
“Kita berharap skenario terburuk tidak terjadi di Timur Tengah, tetapi banyak ramalan yang menyebutkan ini bisa menjadi perang yang sangat panjang,” pungkasnya.
Untuk mengantisipasi dampak lanjutan, seperti lonjakan harga minyak dunia yang berpotensi memengaruhi inflasi dan harga pangan, Prabowo mengingatkan pengalaman Indonesia saat menghadapi pandemi Covid-19. Saat itu, kebijakan bekerja dari rumah mampu menciptakan efisiensi besar, termasuk penghematan konsumsi bahan bakar minyak (BBM).
“Dulu kita berhasil mengatasi Covid-19. Kita mampu banyak bekerja dari rumah, lebih efisien, dan itu berarti kita menghemat BBM dalam jumlah yang sangat besar,” ujar Prabowo.
Ia memberikan contoh konkret, seperti penerapan work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) dan pejabat yang dapat mengurangi kemacetan lalu lintas sekaligus memangkas penggunaan BBM. Namun, Prabowo menegaskan bahwa langkah tersebut tetap memerlukan kajian mendalam.
“Misalnya berapa ASN dan pejabat yang tidak perlu ke kantor, sehingga bisa mengurangi kemacetan dan melaksanakan penghematan besar-besaran. Mengurangi hari kerja juga perlu kita pertimbangkan, termasuk langkah-langkah penghematan lainnya,” tambahnya.
Arahan ini sejalan dengan upaya proaktif pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. Prabowo meminta para menteri segera mengkaji berbagai opsi penghematan, termasuk efisiensi anggaran dan konsumsi energi, guna meminimalkan risiko dampak perang terhadap masyarakat Indonesia.
Sidang kabinet tersebut digelar menjelang persiapan Hari Raya Idul Fitri 2026, di mana isu penghematan menjadi salah satu fokus utama selain kelancaran mudik dan ketersediaan bahan pokok.