Presiden Prabowo Subianto secara resmi meluncurkan program gentengisasi nasional, sebuah inisiatif strategis untuk menggantikan atap rumah berbahan seng dengan genteng tanah liat di seluruh Indonesia.
Program ini disampaikan dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 yang digelar di Sentul, Bogor, Senin (2/2/2026), sebagai bagian dari Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah).
Presiden menegaskan, program gentengisasi dirancang sebagai gerakan nasional yang menyasar peningkatan kualitas hunian masyarakat sekaligus memperkuat estetika lingkungan permukiman.
Menurutnya, dominasi atap seng saat ini tidak hanya berdampak pada meningkatnya suhu di dalam rumah, tetapi juga rentan terhadap korosi, sehingga menurunkan nilai keindahan kawasan dan potensi daya tarik pariwisata nasional.
Dari sisi pendanaan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa anggaran program gentengisasi akan dialokasikan melalui APBN 2026 dengan nilai tidak melebihi Rp1 triliun. Pendanaan tersebut berasal dari cadangan anggaran pemerintah, termasuk opsi realokasi dari sejumlah program lain, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).
Purbaya menekankan bahwa program ini bersifat selektif dan hanya menyasar rumah tangga yang masih menggunakan atap seng, sehingga kebutuhan anggaran dapat tetap terkendali. Pemerintah, kata dia, memastikan efisiensi fiskal tetap menjadi prinsip utama dalam implementasi program.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menilai gentengisasi sebagai langkah konkret untuk meningkatkan kenyamanan dan kualitas hidup masyarakat.
Penggunaan material genteng dinilai mampu menurunkan panas, memperkuat daya tahan bangunan, serta menciptakan tampilan lingkungan yang lebih tertata dan layak huni.
Di sisi lain, program ini juga menghadapi tantangan pada aspek pasokan bahan baku. Kementerian Perindustrian mencatat sekitar 60% pasokan tanah liat untuk industri genteng dan keramik nasional selama ini bergantung pada wilayah Jawa Barat.
Namun, sejak kuartal IV-2025, pasokan mengalami hambatan akibat pencabutan dan moratorium izin pertambangan oleh pemerintah daerah setempat.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto menyatakan dukungan penuh terhadap program gentengisasi nasional, seraya meminta kepastian kebijakan terkait ketersediaan bahan baku agar proses produksi tidak terganggu.
Sebagai tindak lanjut, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita telah berkoordinasi dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi untuk mencari solusi jangka pendek dan jangka panjang.
Presiden Prabowo juga membuka peluang pemanfaatan limbah abu batu bara (fly ash) sebagai bahan campuran genteng, berdasarkan kajian akademis, yang diharapkan tidak hanya menjawab tantangan pasokan tetapi juga menjadi solusi pengelolaan limbah industri secara berkelanjutan.