JAKARTA – Gelombang protes baru kembali melanda Iran pada Minggu (11/1/2026), di tengah meningkatnya kekhawatiran atas tindakan keras aparat. Ribuan warga turun ke jalan di Teheran, Mashhad, dan sejumlah kota lain, meski pemerintah memutus akses internet selama lebih dari 60 jam.
Aksi yang awalnya dipicu oleh kenaikan biaya hidup kini berkembang menjadi gerakan menentang pemerintahan teokratis yang berkuasa sejak revolusi 1979. Video di media sosial menunjukkan kerumunan besar, kendaraan dibakar, hingga keluarga korban mengidentifikasi jenazah di kamar mayat Teheran.
Menurut Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia berbasis di AS, sedikitnya 116 orang tewas, termasuk 37 aparat keamanan. Namun, aktivis memperingatkan jumlah korban bisa jauh lebih tinggi karena pemadaman informasi. Pusat Hak Asasi Manusia di Iran (CHRI) menyebut telah menerima kesaksian kredibel bahwa ratusan demonstran tewas. “Pembantaian sedang terjadi di Iran. Dunia harus bertindak sekarang,” tegas CHRI, dilansir dari Hurriyet Daily News.
Rumah Sakit di Iran Kewalahan
Rumah sakit dilaporkan kewalahan, pasokan darah menipis, dan banyak demonstran ditembak di mata sebagai taktik represif. Kepala kepolisian nasional Ahmad-Reza Radan mengumumkan penangkapan “signifikan” terhadap tokoh demonstran, tanpa merinci jumlahnya.
Di sisi politik, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf memperingatkan bahwa militer AS dan Israel akan menjadi “target sah” jika menyerang Iran, merespons ancaman Presiden Donald Trump yang menyatakan siap melindungi demonstran damai.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran internasional bahwa pemadaman internet memberi ruang bagi kelompok garis keras untuk melancarkan penindakan berdarah tanpa pengawasan dunia.