JAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudha Sadewa mencuri perhatian dengan penampilan barunya saat bertemu media. Ia mengenakan jaket biru gelap berlogo angka “8%” di dada kiri, yang ternyata merupakan hadiah spesial dari lingkaran Istana Kepresidenan. Aksesori ini bukan sekadar gaya, melainkan simbol ambisius pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia menembus 8 persen.
Insiden menarik ini terjadi tepat sebelum sesi doorstop wawancara di Kantor Pusat Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, pada Selasa (21/10/2025). Purbaya memadukan jaket tersebut dengan kemeja putih rapi, menambah kesan profesional sekaligus patriotik. Di bagian lengan kiri, terpampang logo bendera Merah Putih, semakin memperkuat nuansa nasionalisme dalam penampilannya.
Dengan senyum lebar, Purbaya tak segan berbagi cerita di balik jaket ikonik itu. “Sebelumnya nih, hahaha. Baju dari sana, dari orang Istana,” ujarnya sambil menunjuk logo 8%.
Logo “8%” langsung mengingatkan pada target pertumbuhan ekonomi nasional yang digaungkan Presiden Prabowo Subianto sejak awal pemerintahannya. Ambisi ini menjadi pondasi strategi fiskal pemerintahan baru di tengah tantangan global seperti fluktuasi harga komoditas dan ketidakpastian geopolitik. Jaket Purbaya seolah menjadi metafor visual: komitmen nyata untuk akselerasi ekonomi yang lebih cepat dan berkelanjutan.
Pagi sebelumnya, pada Senin (20/10/2025), Purbaya baru saja menggelar pertemuan intensif dengan para fund manager di gedung yang sama. Agenda utamanya adalah meyakinkan para pelaku pasar bahwa kebijakan fiskalnya tetap solid meski terlihat berani. “Fund manager pengen tahu kebijakan saya apa sih, apakah fiskalnya berkesinambungan apa enggak, langkah Menteri Keuangannya ngaco apa enggak. Saya bisa yakinkan mereka bahwa saya kelihatan kayaknya kayak koboi, tapi semuanya saya hitung dengan baik sehingga fiskal tetap terjaga,” tegas Purbaya saat itu.
Gaya kepemimpinan Purbaya yang kerap disebut “seperti koboi” justru menjadi daya tarik tersendiri bagi investor. Ia menekankan pendekatan holistik untuk menjaga stabilitas fiskal sambil mendorong akselerasi pertumbuhan. Pemerintah, menurutnya, akan memaksimalkan instrumen fiskal sebagai “mesin utama” perekonomian, sambil menghidupkan roda sektor swasta melalui kebijakan moneter yang akomodatif.
Lebih lanjut, Purbaya menyoroti upaya berkelanjutan dalam memperbaiki iklim investasi. “Pemerintah juga terus memperbaiki iklim investasi demi menarik investor,” tambahnya, merujuk pada reformasi regulasi dan insentif yang sedang digarap timnya. Langkah ini diharapkan bisa menjaring modal asing lebih besar, sejalan dengan visi ekonomi 8% yang kini menjadi jargon nasional.
Dalam konteks lebih luas, penampilan Purbaya dengan jaket logo 8% ini juga mencerminkan sinergi erat antara Kemenkeu dan Istana. Hadiah dari “orang Istana” menandakan dukungan penuh bagi agenda prioritas Prabowo, termasuk pengendalian inflasi dan peningkatan daya saing global Indonesia. Bagi kalangan bisnis, sinyal ini bisa menjadi booster kepercayaan diri di tengah proyeksi pertumbuhan ekonomi 2025 yang diprediksi mencapai 5–6% oleh lembaga internasional seperti IMF.
Bagi investor, pernyataan Purbaya bukan janji kosong. Pertemuan dengan fund manager kemarin menunjukkan transparansi yang tinggi, di mana ia menguraikan rencana detail untuk menjaga defisit anggaran di bawah 3% APBN sambil mendorong belanja infrastruktur. Ini krusial mengingat Indonesia masih bergulat dengan pemulihan pasca-pandemi dan transisi energi hijau.