JAKARTA – Dalam langkah strategis yang mengguncang panggung geopolitik, Presiden Rusia Vladimir Putin dijadwalkan menggelar pertemuan kilat dengan Presiden Transisi Suriah Ahmed al-Sharaa, yang sedang melakukan kunjungan kerja ke Rusia. Pertemuan krusial ini diharapkan membuka babak baru hubungan bilateral yang lebih kokoh, di tengah badai konflik yang masih mengamuk di Timur Tengah.
Sumber Kremlin mengungkapkan, agenda pembicaraan mencakup penguatan ikatan Rusia-Suria di berbagai lini: politik, ekonomi, hingga kemanusiaan. Tak hanya itu, kedua pemimpin akan mengupas tuntas perkembangan terbaru di kawasan, termasuk dinamika pasca-perubahan rezim di Suriah yang kini dipimpin al-Sharaa. “Ini adalah momen emas untuk membangun fondasi perdamaian dan stabilitas,” tegas seorang pejabat Rusia dilansir dari Sputnik, Rabu (15/10/2025), menandakan komitmen Moskow untuk tetap menjadi pemain kunci di Suriah.
Kunjungan al-Sharaa ini datang pasca-transisinya sebagai pemimpin Suriah, menandai akhir era lama dan awal kolaborasi erat dengan Rusia—mitra setia yang pernah mendukung Damaskus selama perang saudara. Analis internasional memprediksi, kesepakatan ekonomi bisa membuka pintu investasi miliaran dolar, sementara bantuan kemanusiaan Rusia berpotensi mempercepat rekonstruksi Suriah yang hancur lebur. Apakah ini sinyal akhir konflik Timur Tengah? Dunia menanti hasilnya!