JAKARTA – Presiden Rusia Vladimir Putin kembali mengeluarkan pernyataan keras terkait konflik di Ukraina, memperingatkan bahwa pasukan asing yang memasuki wilayah tersebut akan menjadi target sah untuk dihancurkan.
Ancaman ini menyusul pernyataan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky tentang kemungkinan penempatan ribuan tentara asing di negaranya sebagai bagian dari jaminan keamanan pasca-perang.
Dalam pernyataan yang dikutip Reuters pada Sabtu (6/9/2025), Putin menegaskan, “Jika ada pasukan muncul di sana, terutama saat ini, selama operasi militer, kami berasumsi bahwa mereka akan jadi target penghancuran yang sah.”
Ia juga menambahkan bahwa kehadiran pasukan asing di Ukraina tidak akan membantu proses perdamaian.
“Dan, jika keputusan yang diambil mengarah ke perdamaian, perdamaian jangka panjang, saya melihat sama sekali tidak ada gunanya kehadiran mereka di wilayah Ukraina. Titik,” tegas Putin.
Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan yang terus memanas antara Rusia dan Barat, khususnya setelah 26 negara berjanji memberikan jaminan keamanan pasca-perang untuk Ukraina. Namun, pejabat Eropa menilai tanda-tanda perdamaian antara Rusia dan Ukraina masih jauh dari harapan, memperumit situasi geopolitik global.
Eskalasi Konflik dan Respons Dunia
Ancaman Putin ini memperkuat kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas, terutama setelah Rusia berulang kali memperingatkan Barat terhadap intervensi langsung di Ukraina. Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, Amerika Serikat dan sekutunya telah menggelontorkan bantuan militer miliaran dolar untuk Kyiv, termasuk senjata presisi dan sistem pertahanan udara, seperti yang diumumkan Presiden AS Joe Biden pada September 2024.
Di sisi lain, Ukraina terus melancarkan serangan balasan, termasuk serangan drone besar-besaran ke pangkalan militer Rusia, yang diklaim telah menghancurkan puluhan pesawat tempur Rusia pada Juni 2025. Serangan ini menunjukkan semakin intensnya perlawanan Ukraina terhadap Rusia, yang kini menghadapi tekanan di berbagai front.
Dampak Global dan Ancaman Perang yang Lebih Luas
Pernyataan Putin ini juga memicu kekhawatiran akan potensi konflik yang lebih besar, termasuk ancaman nuklir yang kerap dilontarkannya. Pada Maret 2024, Putin memperingatkan risiko “nyata” perang nuklir jika Barat terus meningkatkan keterlibatan di Ukraina.
Sementara itu, NATO telah memperkuat pertahanannya, dengan beberapa negara Eropa seperti Jerman dan Swedia bahkan menghidupkan kembali wajib militer untuk menghadapi ancaman Rusia.
Analis militer memperingatkan bahwa ketegangan ini dapat menjadi pemicu konflik global yang lebih luas, dengan beberapa pihak menyebut situasi ini sebagai “pintu gerbang menuju Perang Dunia III.” Meski demikian, upaya diplomatik untuk meredakan konflik masih terus dilakukan, meskipun hasilnya belum menunjukkan kemajuan signifikan.
