TEHERAN, IRAN – Reza Pahlavi, putra dari raja terakhir Iran yang kini hidup dalam pengasingan, bereaksi keras atas kabar tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Dalam pernyataan yang dirilis melalui media sosial, Pahlavi menyebut kematian Khamenei sebagai momentum bersejarah bagi rakyat Iran.
“Ali Khamenei, Zahhak (raja jahat dalam mitologi Iran) yang haus darah di zaman kita, pembunuh puluhan ribu putra dan putri Iran yang paling berani, telah dihapus dari halaman sejarah,” tulis Pahlavi dalam akun media sosialnya, dikutip Minggu (1/3/2026).
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa rezim yang berkuasa selama ini telah kehilangan legitimasinya. “Dengan kematiannya, Republik Islam secara efektif telah berakhir dan akan segera dibuang ke tong sampah sejarah,” tambahnya.
Pahlavi juga menyerukan kepada aparat keamanan dan militer Iran untuk tidak lagi berpihak pada rezim. Ia mengingatkan bahwa ini adalah “kesempatan terakhir” bagi mereka untuk bergabung dengan gerakan rakyat.
“Ini menandai awal dari perayaan nasional kita yang agung, tetapi ini bukanlah akhir dari perjalanan,” cetus dia.
Reza Pahlavi mengikuti jejak orang tua dan saudara-saudaranya ke pengasingan pasca-Revolusi Islam 1979. Sejak saat itu, ia menetap di Amerika Serikat dan kerap menyuarakan kritik terhadap pemerintahan Teheran.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi bahwa Ayatollah Khamenei tewas dalam serangan gabungan yang dilancarkan AS dan Israel. Trump menyebut kematian Khamenei sebagai bentuk keadilan bagi rakyat Iran.
“Ini adalah keadilan bagi rakyat Iran,” tulis Trump melalui platform media sosialnya, Minggu (1/3/2026).
Trump juga mengecam keras kepemimpinan Khamenei, menyebutnya sebagai salah satu tokoh paling jahat dalam sejarah modern.
Hingga berita ini diturunkan, otoritas Iran belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait kabar tersebut. Sementara itu, sejumlah kota di Iran dilaporkan mulai menyaksikan gelombang kecil perayaan spontan dari warga yang menolak rezim.