JAKARTA – Bulan Ramadan tidak hanya identik dengan ibadah puasa di siang hari, tetapi juga dengan semangat menghidupkan malam melalui berbagai bentuk ibadah. Tradisi ini semakin terasa pada sepuluh malam terakhir, khususnya malam-malam ganjil yang diyakini memiliki keutamaan besar. Salah satu amalan yang paling menonjol adalah qiyam al-lail, yang dalam konteks Ramadan dikenal dengan istilah Qiyam Ramadan.
Secara umum, qiyam berarti “berdiri”. Dalam istilah syariat, qiyam merujuk pada aktivitas ibadah malam, terutama salat. Anjuran melaksanakan Qiyam Ramadan memiliki dasar kuat dalam hadis Nabi Muhammad ﷺ yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang menegakkan (qiyam) di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim)
Hadis ini menjadi landasan utama para ulama dalam menjelaskan keutamaan menghidupkan malam Ramadan. Frasa “iman dan ihtisab” dimaknai sebagai pelaksanaan ibadah dengan keyakinan penuh terhadap janji Allah serta niat yang tulus semata-mata mengharap pahala-Nya.
Makna Qiyam Ramadan Menurut Ulama
Pertanyaan yang sering muncul adalah: apakah Qiyam Ramadan hanya berarti salat Tarawih, ataukah mencakup seluruh ibadah malam?
Mayoritas ulama klasik menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Qiyam Ramadan dalam hadis tersebut adalah salat Tarawih. Dalam Shahih al-Bukhari, Imam al-Bukhari menempatkan hadis tentang qiyam Ramadan dalam Kitab Shalat Tarawih. Penempatan ini menunjukkan bahwa beliau memahami qiyam Ramadan sebagai Tarawih.
Hal yang sama juga ditegaskan dalam Shahih Muslim. Imam Muslim memberi judul bab yang secara eksplisit menyebut anjuran melaksanakan qiyam Ramadan yang dimaksud adalah Tarawih. Penjelasan ini kemudian diperkuat oleh Imam an-Nawawi dalam kitab syarahnya, di mana beliau menyatakan secara tegas bahwa Qiyam Ramadan adalah salat Tarawih.
Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari turut menjelaskan bahwa makna “menegakkan Ramadan” adalah menghidupkan malamnya dengan salat. Secara bahasa, qiyam berarti berdiri, dan aktivitas ibadah yang paling identik dengan berdiri adalah salat. Karena itu, maknanya lebih dekat kepada berdiri untuk salat pada malam Ramadan, meskipun tidak disyaratkan harus sepanjang malam.
Dalil Al-Qur’an tentang Menghidupkan Malam
Walaupun istilah Qiyam Ramadan disebutkan dalam hadis, Al-Qur’an juga memuji orang-orang yang menghidupkan malam dengan ibadah.
Allah berfirman dalam:
Surah Al-Muzzammil ayat 1-2
يٰٓاَيُّهَا الْمُزَّمِّلُۙ ١ قُمِ الَّيْلَ اِلَّا قَلِيْلًاۙ ٢
“Wahai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk salat) pada malam hari, kecuali sedikit (daripadanya).”
QS. Al-Muzzammil (73) ayat 1-2
Ayat ini menjadi dasar umum disyariatkannya qiyam al-lail.
Selain itu, Allah juga memuji orang-orang beriman dalam firman-Nya:
Surah As-Sajdah ayat 16
تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap.”
QS. As-Sajdah (32) ayat 16
Dan dalam:
Surah Adz-Dzariyat ayat 17-18
كَانُوْا قَلِيْلًا مِّنَ الَّيْلِ مَا يَهْجَعُوْنَ ١٧ وَبِالْاَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ ١٨
“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan pada waktu sahur mereka memohon ampun.”
QS. Adz-Dzariyat (51) ayat 17–18
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa menghidupkan malam adalah ciri orang-orang saleh.
Apakah Hanya Terbatas pada Tarawih?
Meski mayoritas ulama memaknai Qiyam Ramadan sebagai Tarawih, sebagian ulama lain memberikan cakupan yang lebih luas. Mereka menjelaskan bahwa Tarawih adalah bentuk utama dan paling dikenal dari Qiyam Ramadan, namun bukan satu-satunya bentuk ibadah malam.
Sebagian ulama menyebutkan bahwa siapa pun yang mengisi malam Ramadan dengan ketaatan baik melalui tilawah Al-Qur’an, zikir, doa, mempelajari ilmu agama, maupun bentuk ibadah lainnya maka ia telah termasuk dalam kategori menegakkan Qiyam Ramadan.
Dengan demikian, melaksanakan Tarawih sudah cukup untuk memenuhi anjuran hadis. Namun, semakin banyak malam Ramadan dihidupkan dengan ibadah tambahan, semakin sempurna pula nilai qiyam tersebut.
Dimensi Spiritual Qiyam Ramadan
Siang hari Ramadan melatih kesabaran melalui puasa, sementara malamnya melatih kedekatan spiritual melalui ibadah. Mengurangi waktu tidur demi berdiri dalam salat adalah simbol ketundukan seorang hamba kepada Tuhannya.
Dalam keheningan malam, doa terasa lebih khusyuk, bacaan Al-Qur’an lebih menyentuh, dan hati lebih mudah tersentuh oleh kesadaran akan kebesaran Allah. Karena itu, Qiyam Ramadan bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan momentum pembinaan ruhani yang mendalam.
Dari berbagai penjelasan ulama, dapat disimpulkan bahwa Qiyam Ramadan secara umum dipahami sebagai salat Tarawih. Namun, maknanya dapat diperluas mencakup seluruh bentuk ibadah malam di bulan Ramadan.
Dengan melaksanakan Tarawih, seorang Muslim telah mengamalkan Qiyam Ramadan sebagaimana dimaksud dalam hadis sahih. Akan tetapi, menghidupkan malam dengan tilawah, zikir, doa, dan refleksi diri akan semakin menyempurnakan ibadah tersebut.
Pada akhirnya, inti Qiyam Ramadan terletak pada keikhlasan dan kesungguhan dalam mencari ampunan serta ridha Allah, sebagaimana janji Rasulullah ﷺ dalam hadis yang diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Ramadan pun menjadi bulan pembaruan iman dan transformasi spiritual bagi setiap Muslim.