JAKARTA – Awal bulan Ramadan diperkirakan akan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Sebagaimana biasanya, umat Muslim diwajibkan untuk melaksanakan ibadah puasa dari azan Subuh hingga azan Magrib.
Namun, beberapa kaum muslim, terutama perempuan harus mengganti puasa yang ditinggalkan sebelumnya karena mengalami menstruasi. Hal tersebut menyebabkan kaum muslimah tidak diperbolehkan melaksanakan ibadah puasa saat bulan Ramadan.
Islam memiliki hukum dan tata cara sendiri bagi orang-orang yang ingin mengganti ibadah puasa. Berikut penjelasannya.
Orang-orang yang Harus Mengganti Puasa
Kewajiban qadha puasa berlaku bagi umat Islam yang meninggalkan puasa Ramadan dan harus menggantinya sesuai dengan jumlah hari yang ditinggalkan. Golongan yang termasuk dalam ketentuan ini antara lain:
- Perempuan yang sedang mengalami haid selama bulan Ramadan sehingga tidak dapat menjalankan puasa.
- Orang yang melakukan perjalanan jauh, yakni dengan jarak kurang lebih 80 kilometer atau lebih.
- Muslim yang membatalkan puasa karena adanya alasan tertentu yang dibenarkan menurut ketentuan syariat.
- Orang yang dalam kondisi sakit namun masih ada kemungkinan untuk sembuh, sehingga puasa yang ditinggalkan wajib diganti di kemudian hari.
- Seseorang yang lupa menetapkan niat pada malam hari di bulan Ramadan. Namun demikian, niat yang tertanam dalam hati tanpa diucapkan secara lisan tetap dianggap sah, karena niat batin seorang muslim sudah mencukupi.
Niat Mengganti Ibadah Puasa
Niat adalah syarat sah dari ibadah puasa. Tanpa niat, ibadah puasa yang dilakukan tidak akan terhitung sah. Berikut lafal niat qadha puasa yang diniatkan dalam hati:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadha’i fardhi syahri Ramadhana lillahi ta’ala.
Artinya: Aku berniat untuk mengqadha puasa bulan Ramadan esok hari karena Allah SWT.
Niat puasa harus dilakukan sebelum azan Subuh berkumandang dan tidak boleh dilakukan pada siang hari.
Ganjaran Bila Tidak Mengganti Ibadah Puasa
Mengganti puasa harus dilakukan sebelum Ramadan selanjutnya datang. Oleh karena itu, sebaiknya tidak menunda-nunda untuk mengganti ibadah puasa.
Bila seseorang tidak mengganti ibadah puasa yang ditinggalkannya, maka ia diwajibkan untuk mengganti puasanya setelah bulan Ramadan dan membayar fidyah. Fidyah wajib dibayarkan sekurang-kurangnya sebesar satu mud, yakni sekitar tujuh ons makanan pokok seperti beras, untuk setiap satu hari puasa yang ditinggalkan.
Saat membayar fidyah, diperlukan membaca lafal niat berikut:
نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ هٰذِهِ الْفِدْيَةَ عَنْ تَأْخِيْرِ قَضَاءِ صَوْمِ رَمَضَانَ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu an ukhrija hādzihil fidyata ‘an ta’khīri qadhā’i shaumi Ramadhāna fardhan lillāhi ta‘ālā.
Artinya: Aku berniat mengeluarkan fidyah ini dari tanggungan keterlambatan mengqadha puasa Ramadan, fardu karena Allah.
Demikian ketentuan Islam terkait mengganti puasa yang pernah ditinggalkan. Sebelum Ramadan kembali datang, umat Muslim diharapkan segera melaksanakan ibadah puasa pengganti tersebut.