JAKARTA – Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, mengungkapkan fakta mengejutkan seputar industri perfilman nasional.
Ia menyebut bahwa biaya produksi film animasi Indonesia bisa mencapai angka yang fantastis, bahkan melampaui anggaran film legendaris seperti Si Doel Anak Betawi.
Rano mencontohkan film “Jumbo”, karya animasi lokal yang kini tengah meroket di bioskop.
Film tersebut disebut menelan biaya produksi hampir Rp70 miliar dan digarap selama lima tahun. Meski begitu, hasilnya tak mengecewakan.
Jumbo telah berhasil menyentuh angka 8 juta penonton, menjadikannya salah satu film animasi terlaris sepanjang sejarah perfilman Indonesia.
“Jadi bikin film animasi itu jauh lebih mahal daripada bikin Si Doel Anak Betawi,” ujarnya, Minggu (4/5/2025).
Rano menambahkan, keberhasilan Jumbo adalah bentuk nyata apresiasi bagi anak-anak yang butuh ruang berkreasi dan hiburan yang layak.
Ia optimistis film ini akan mencetak box office dan menyaingi film nasional lain.
Kisah Don dalam Jumbo
Film Jumbo mengisahkan perjalanan emosional seorang bocah 10 tahun bernama Don, yang hidup sebagai yatim piatu di bawah asuhan sang nenek.
Dalam kesehariannya, Don hanya ditemani sebuah buku dongeng peninggalan orang tuanya, penuh ilustrasi dan cerita ajaib.
Buku tersebut bukan hanya penghibur, tapi juga menjadi pelarian dari dunia nyata yang keras dan kerap tak bersahabat.
Dari sinilah muncul tekad Don untuk menampilkan pertunjukan panggung berdasarkan isi buku tersebut—sebuah bentuk ekspresi yang ingin ia bagikan kepada teman-temannya, agar mereka juga percaya pada keajaiban dan kekuatan imajinasi.
Melalui Jumbo, penonton tak hanya disuguhi visual animasi berkualitas tinggi, tapi juga narasi menyentuh dan penuh nilai edukatif, yang cocok dinikmati oleh keluarga Indonesia.
Film ini menandai pencapaian besar dalam dunia animasi nasional dan membuka mata banyak pihak tentang potensi industri kreatif lokal.
Rano Karno menilai keberhasilan Jumbo sebagai bukti bahwa anak-anak Indonesia perlu difasilitasi dengan wadah kreatif yang edukatif dan mendidik.
Ia berharap semakin banyak sineas muda yang tertarik menggarap proyek-proyek serupa.
“Jumbo akan mencapai box office dan mengalahkan film-film nasional lainnya,” ujarnya lagi menegaskan. Baginya, penting menghadirkan film yang tak sekadar menghibur, tetapi juga mengedukasi dan menyemangati anak-anak agar percaya diri, berani bermimpi, dan tak ragu tampil di panggung kehidupan.***