SURAT THANI, THAILAND – Ratu Thailand Suthida mencatatkan sejarah di dunia penerbangan militer setelah berhasil menerbangkan jet tempur JAS 39C Gripen seorang diri tanpa instruktur di kokpit. Penerbangan tunggal yang berlangsung di pangkalan udara militer Surat Thani, Thailand selatan, pada Kamis (8/10/2026) itu menjadikannya perempuan pertama di Thailand yang menuntaskan penerbangan solo menggunakan pesawat tempur tersebut.
Momen bersejarah itu disaksikan langsung oleh suaminya, Raja Maha Vajiralongkorn. Setelah pesawat mendarat dengan selamat, Raja menyambut Suthida di area landasan dan memberikan penghargaan atas keberhasilannya mengendalikan jet tempur buatan Swedia tersebut.
Rekaman resmi yang dirilis pihak Istana Kerajaan Thailand memperlihatkan Suthida berada di kokpit pesawat JAS 39C Gripen. Pesawat berkursi tunggal itu mengharuskan pilot mengendalikan seluruh proses penerbangan tanpa kehadiran instruktur di dalam kokpit.
Namun, keberhasilan tersebut bukan hasil latihan singkat. AFP, Jumat (9/10/2026), melaporkan bahwa Suthida menjalani pelatihan intensif selama beberapa pekan di pangkalan udara Surat Thani sebelum akhirnya diizinkan melakukan penerbangan solo.
Rangkaian latihan itu mencakup simulasi penerbangan hingga sekitar 10 jam terbang menggunakan Gripen berkursi ganda bersama instruktur berpengalaman. Tahapan tersebut menjadi bagian dari persiapan sebelum Suthida menerbangkan varian berkursi tunggal secara mandiri.
Setelah pesawat berhasil mendarat, Raja Maha Vajiralongkorn memberikan buket bunga kepada istrinya. Raja juga secara simbolis menyematkan lencana Golden Gripen Order pada lengan kiri Suthida sebagai bentuk penghargaan atas pencapaiannya di bidang penerbangan militer.
Dari Pramugari hingga Pilot Pesawat Tempur
Sebelum menjadi bagian dari keluarga kerajaan, Suthida mengawali kariernya di industri penerbangan sipil sebagai pramugari Thai Airways, maskapai nasional Thailand.
Perjalanan hidupnya kemudian berubah setelah menjalin hubungan dengan Raja Maha Vajiralongkorn. Keduanya menikah pada 2019, beberapa hari sebelum prosesi penobatan resmi sang raja.
Ketertarikan Suthida terhadap dunia penerbangan tidak berhenti pada pengalaman di kabin pesawat komersial. Sejak 2010, ia mulai mengembangkan kemampuan menerbangkan pesawat hingga mencatatkan total sekitar 1.190 jam terbang.
Pengalaman tersebut juga mencakup penerbangan bersama Raja Maha Vajiralongkorn dalam sejumlah agenda resmi kerajaan. Suthida kerap mendampingi suaminya sebagai kopilot dalam penerbangan kerajaan.
Salah satu pengalaman pentingnya adalah penerbangan menuju Bandara Paro di Bhutan. Bandara tersebut dikenal memiliki tantangan tersendiri bagi penerbang karena kondisi geografis dan medan di sekitarnya.
Pengalaman panjang di dunia penerbangan sipil dan berbagai penerbangan kerajaan itu menjadi bagian dari perjalanan Suthida sebelum mencapai tahap menerbangkan jet tempur secara mandiri.
Thailand Perkuat Armada Jet Tempur Gripen
Keberhasilan Suthida menerbangkan Gripen secara solo berlangsung ketika Angkatan Udara Kerajaan Thailand terus mengembangkan kemampuan armada tempurnya.
Saat ini, Angkatan Udara Thailand mengoperasikan satu skuadron jet tempur Gripen varian C/D yang diproduksi Saab, perusahaan pertahanan asal Swedia.
Thailand juga telah menandatangani kontrak pembelian empat unit Gripen tambahan pada 2025. Kesepakatan senilai sekitar 556 juta dolar AS tersebut mencakup tiga unit Gripen varian E dan satu unit varian F.
Pengiriman pesawat tambahan itu dijadwalkan berlangsung secara bertahap hingga 2030.
Penambahan armada tersebut menjadi bagian dari perkembangan kekuatan udara Thailand. Di tengah upaya modernisasi itu, penerbangan solo Suthida menandai pencapaian tersendiri dalam perjalanan kariernya di bidang penerbangan militer.