JAKARTA – Buku Iqro yang selama puluhan tahun menjadi rujukan utama belajar membaca Al-Qur’an di Indonesia kini hadir dengan tampilan baru yang lebih segar dan modern. Rebranding ini dilakukan sebagai upaya menjawab perkembangan zaman tanpa mengubah substansi metode pembelajaran yang telah mengakar kuat di masyarakat
Peluncuran tampilan baru Iqro di Jakarta menandai babak baru perjalanan buku legendaris tersebut. Fokus utama pembaruan terletak pada sisi visual: tata letak yang lebih rapi, pilihan warna yang lebih lembut dan ramah mata, serta kualitas cetak yang lebih baik. Meski mengalami penyegaran desain, struktur pembelajaran dan karakter tulisan khasnya tetap dipertahankan.
Sebagaimana diketahui, metode Iqro disusun oleh KH As’ad Humam pada akhir 1980-an di Yogyakarta. Metode ini dikenal efektif karena menggunakan pendekatan langsung membaca tanpa mengeja secara panjang. Dalam enam jilid bertahap, peserta didik diperkenalkan pada huruf hijaiyah, cara penyambungan huruf, hingga hukum bacaan dasar secara sistematis.
Warisan metode tersebut menjadi alasan utama mengapa proses rebranding tidak menyentuh substansi materi. Tim pengembang menegaskan bahwa pembaruan hanya difokuskan pada kemasan visual agar lebih relevan dengan generasi masa kini. Tulisan Arab asli yang menjadi ciri khas Iqro tetap digunakan, karena dianggap sebagai bagian penting dari identitas historis buku tersebut.
Di Jakarta, respons terhadap tampilan baru Iqro cukup positif, terutama dari kalangan pendidik TPA dan orang tua muda. Mereka menilai desain yang lebih minimalis dan bersih membuat anak-anak lebih tertarik untuk membuka dan mempelajari isi buku. Selain itu, tampilan yang lebih modern juga dinilai mampu menjangkau kalangan remaja dan dewasa yang baru memulai belajar membaca Al-Qur’an.
Perubahan visual ini juga mencerminkan pergeseran preferensi pembaca di era digital. Generasi saat ini terbiasa dengan desain yang simpel, informatif, dan tidak terlalu padat. Oleh karena itu, tata letak baru Iqro dibuat lebih lapang dengan pengaturan margin yang proporsional serta pemilihan tipografi pendukung yang tidak mengganggu fokus pada huruf Arab.
Meski demikian, prinsip utama metode tetap dijaga: belajar secara bertahap, konsisten, dan langsung praktik membaca. Enam jilid Iqro masih disusun sesuai urutan aslinya. Setiap jilid mempertahankan sistem peningkatan tingkat kesulitan yang telah terbukti efektif selama puluhan tahun.
Rebranding ini juga menjadi simbol bahwa karya pendidikan Islam dapat beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan nilai dasarnya. Di tengah derasnya arus digitalisasi, keberadaan buku fisik yang dirancang dengan baik tetap memiliki tempat tersendiri. Penyegaran desain bukan hanya soal estetika, tetapi juga strategi untuk menjaga keberlanjutan literasi Al-Qur’an di Indonesia.
Jakarta sebagai pusat aktivitas nasional dipilih menjadi titik fokus peluncuran karena perannya sebagai barometer tren pendidikan dan penerbitan. Dengan hadirnya wajah baru Iqro di ibu kota, diharapkan gaung pembaruan ini dapat menjangkau lebih banyak lembaga pendidikan, masjid, serta komunitas belajar Al-Qur’an di berbagai daerah.
Lebih dari sekadar perubahan tampilan, rebranding ini membawa pesan bahwa tradisi dan modernitas tidak harus saling meniadakan. Buku Iqro membuktikan bahwa warisan karya KH As’ad Humam tetap relevan ketika dikemas dengan pendekatan visual yang sesuai perkembangan zaman. Nilai asli metode tetap terjaga, sementara sentuhan desain baru membuka ruang bagi generasi berikutnya untuk belajar dengan lebih nyaman dan percaya diri.
Dengan demikian, kehadiran Iqro versi terbaru bukanlah upaya menggantikan yang lama, melainkan memperkuat fondasi yang sudah ada. Rebranding ini menjadi langkah strategis agar buku yang telah menemani jutaan umat Islam belajar membaca Al-Qur’an itu tetap hidup, adaptif, dan terus memberi manfaat di tengah dinamika masyarakat modern.