Max Verstappen tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya setelah menjalani sesi Sprint yang sangat sulit di Grand Prix China. Memulai balapan dari posisi ke-8, pembalap utama Red Bull ini hanya mampu finis di posisi ke-9—tepat di luar zona poin—setelah mengalami serangkaian kendala teknis sejak detik pertama.
Masalah Mesin dan Keseimbangan Mobil
Nasib sial Verstappen bermula saat lampu hijau menyala. Mobil RB22 miliknya seolah kehilangan taji saat start, membuatnya melorot hampir ke posisi paling buncit. Verstappen menduga ada masalah pada unit tenaga yang serupa dengan kendala rekan setimnya di seri sebelumnya.
“Saya kehilangan tenaga, mungkin masalahnya sama dengan yang dialami Liam [Lawson] di Melbourne,” ketus Verstappen. Namun, masalah tidak berhenti di situ.
Meski sempat merangkak naik setelah mengganti ban ke kompon soft saat periode Safety Car, ia tetap kesulitan mengejar barisan depan. “Keseimbangan mobil sangat buruk dan degradasi ban saya jauh lebih parah dibanding pembalap lain di lini tengah. Ini benar-benar bencana,” tambahnya.
Duo Red Bull yang Tak Berkutik
Rekan setimnya, Isack Hadjar, juga mengalami nasib yang tak jauh berbeda. Pembalap muda Prancis ini terlibat insiden dengan Kimi Antonelli di lap pembuka. Meskipun Antonelli dijatuhi hukuman 10 detik, dampak kerusakan pada mobil Hadjar sudah terlanjur parah.
Hadjar, yang mencoba strategi ban soft sejak awal, tidak mampu memanfaatkan keunggulan kecepatannya dan harus puas finis di posisi ke-15. “Dengan kerusakan mobil, saya tidak bisa melakukan apa-apa. Kami ingin melihat bagaimana ban soft bekerja, tapi pada akhirnya kami tidak mendapatkan data apa pun,” ujar Hadjar lesu.
Menjelang balapan utama esok hari, tim Red Bull harus bekerja ekstra keras untuk menemukan solusi instan. Dengan selisih performa yang cukup jauh dari para pesaing, Hadjar memprediksi hari esok akan menjadi balapan yang sangat panjang dan melelahkan bagi tim banteng merah tersebut.