Presiden RI Prabowo Subianto resmi melantik Syahganda Nainggolan sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI di Istana Negara, Jakarta Pusat, Jumat (2/10/2026). Penunjukan ini menempatkan mantan aktivis senior tersebut menggantikan posisi Muhammad Qodari yang dirotasi ke Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).
Pelantikan Syahganda mencuri perhatian publik mengingat perjalanan panjangnya di panggung pergerakan nasional—mulai dari demonstran mahasiswa era Orde Baru, politisi, pimpinan riset, hingga berujung pada pengangkatan di jajaran eksekutif Istana.
Rekam Jejak Aktivisme: Dari ITB, UI, Hingga Jeruji Bareskrim
Darah pergerakan Syahganda sudah bergejolak sejak mengenyam pendidikan tinggi di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada dekade 1980-an. Aksi-aksi vokalnya menentang rezim Orde Baru membuatnya sempat dikeluarkan dari kampus, hingga akhirnya melanjutkan studi ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI).
Pasca-Reformasi 1998, Syahganda merambah panggung politik praktis. Ia membidani lahirnya ormas Daulat Rakyat yang kemudian bertransformasi menjadi parpol, lalu memprakarsai pembentukan Partai Merdeka bersama Adi Sasono untuk bertarung di Pemilu 2004. Ia juga sempat berlaga lewat Partai Golkar di Dapil Bogor pada 2009.
Sikap kritisnya makin mencuat saat mendirikan Sabang Merauke Circle (SMC) pada 2010 dan menjadi petinggi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI). Di era Presiden Joko Widodo, Syahganda vokal mengkritik penanganan pandemi COVID-19 hingga pengesahan UU Cipta Kerja.
Aksinya menyuarakan penolakan Omnibus Law melalui media sosial berujung pada penangkapan oleh kepolisian pada akhir 2020. Pengadilan Negeri Depok menjatuhkan vonis 10 bulan penjara, sebelum akhirnya ia bebas penuh dari Rutan Bareskrim Polri pada Agustus 2021.
Titik Balik GREAT Institute dan Kesamaan Visi dengan Prabowo
Usai melampaui fase kritis tersebut, Syahganda mendirikan lembaga riset independen GREAT Institute pada 25 Januari 2025. Lembaga ini berfokus pada kajian strategis di bidang ekonomi, teknologi, dan analisis politik nasional.
Menariknya, lewat narasi resmi GREAT Institute, pandangan politik Syahganda melihat adanya ruang perjumpaan ideologis dengan kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
“GREAT Institute menilai bahwa ideologi Presiden Prabowo yang tercermin dari program kerja dan pernyataan-pernyataannya jauh berbeda dari rezim pemerintahan sebelumnya yang sangat neoliberal. Presiden Prabowo memiliki visi kerakyatan yang sejalan dengan perjuangan kami untuk mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera,” tulis GREAT Institute dalam rilis resminya, Jumat (2/10/2026).
Transformasi dari figur kritis di garis luar menjadi nakhoda Bakom RI ini memberi tantangan baru bagi Syahganda untuk menyelaraskan, merajut, dan mengorkestrasi seluruh narasi serta program strategis pemerintah pusat hingga daerah di bawah komando Presiden Prabowo.