JAKARTA – Melalui pengalaman yang dilalui selama lebih dari empat dekade, PT Rekayasa Industri (Rekind) berpeluang besar untuk menapaki bisnis berkelanjutan melalui teknologi Carbon Capture & Storage (CCS) dan Carbon Capture, Utilization, & Storage (CCUS).
Hal itu ditegaskan Triharyo Indrawan Soesilo, Staf Ahli Kementerian ESDM (2019-2024) yang juga menjadi Project Development Specialist for CCS Projects, dalam Keynote Speech pada kegiatan Pelatihan & Focus Group Discussion Pengenalan Komprehensif CCS/CCUS untuk Rekind Group, di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Kegiatan itu merupakan hasil sinergi antara Center of Excellence on CCS and CCUS Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Rekind. Pelatihan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat pemahaman SDM Rekind terhadap teknologi penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon (CCS/CCUS), yang kini menjadi sorotan global dalam upaya menekan emisi karbon.
“Pengembangan inovasi dan teknologi CCUS/CCS tidak hanya penting untuk menekan emisi karbon, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru, terutama melalui mekanisme carbon trading (perdagangan karbon). Hal ini sejalan dengan target Net Zero Emission 2060 Indonesia. Rekind bersama mitranya berpotensi menjadi pelopor dalam peluang ini,” ungkap Hengky, sapaan akrab Triharyo Indrawan Soesilo.
Dia menambahkan, dinamika industri global kini tengah mengalami perubahan besar. Bisnis EPC konvensional mulai menghadapi kejenuhan, sementara isu keberlanjutan, lingkungan hijau (green environment), dan regulasi global mendorong industri untuk bertransformasi. “Perusahaan tidak lagi cukup hanya bertahan. Mereka harus mampu menciptakan nilai baru, salah satunya melalui inovasi CCS/CCUS,” tuturnya.
Bahkan, terkait regulasi global, kata Hengky, mulai tahun 2026 Uni Eropa akan memberlakukan penuh kebijakan Carbon Border Adjusment Mechanism (CBAM) terhadap produk ekspor beremisi tinggi seperti semen, baja, pupuk, olefin, dan petrokimia dengan biaya karbon tambahan.
Artinya, pelaku industri di Indonesia harus mampu mengukur, mengurangi, dan mengelola emisi karbonnya agar tetap kompetitif di pasar global. “Di sinilah peluang besar Rekind muncul sebagai perusahaan EPC, melalui rekam jejak panjang di CO2 removal, amonia, petrokimia, dan utilitas gas. Salah satunya, Rekind bisa merancang dan membangun fasilitas CCUS/CCS mulai dari proses industri.”
Pandangan yang disampaikan Hengky mendapat apresiasi positif dari Direktur Operasi dan Teknologi/Pengembangan Rekind, Yusairi. Ia menilai keberlanjutan merupakan arah masa depan yang lebih baik dan menjadi komitmen yang harus terus diperjuangkan, dan kegiatan ini merupakan dari rangkaian tersebut.
Namun, memahami dan mengimplementasikan CCS/CCUS bukan hal yang sederhana seperti halnya membalikkan telapak tangan. “Ada banyak aspek yang perlu dikaji secara mendalam, mulai dari kesiapan teknologi dan infrastruktur, model bisnis, pembiayaan, hingga regulasi, insentif, serta dampak sosial lingkungannya,” jelas Yusairi.
Maka dari itu, lanjut Yusairi, forum ini penting untuk memperkuat pandangan tersebut, terutama dalam membangun kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya. “Kita ingin keluar dari forum ini dengan pemahaman yang selaras dan rekomendasi konkret yang dapat menjadi masukan bagi kebijakan nasional maupun strategi korporasi Rekind,” ujarnya menegaskan.
Rekind juga terus meningkatkan kompetensi para engineer dan profesionalnya agar mampu menguasai teknologi terkini dan menginternalisasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) sebagai fondasi keberlanjutan bisnis.
Selama lebih dari empat dekade, Rekind menjadi bagian penting dari pembangunan industri kimia, energi, dan pupuk di Indonesia. Kepiawaian Rekind dalam berbagai teknologi—mulai dari refinery, petrochemical, mineral, fertilizer, pengolahan gas (termasuk CO₂ removal), hingga pembangkit listrik konvensional dan geothermal —menjadikannya perusahaan EPC nasional andalan yang dipercaya untuk menangani beragam proyek strategis nasional.