JAKARTA – Harga emas menembus level bersejarah di atas $4.000 per ons (Rp66 juta) untuk pertama kalinya pada Rabu (8/10/2025).
Kenaikan tajam harga emas ini, seiring meningkatnya minat investor terhadap aset aman di tengah ekspektasi penurunan suku bunga Amerika Serikat dan kekhawatiran penutupan pemerintahan federal.
Lonjakan harga logam mulia ini menegaskan pergeseran besar dalam strategi investasi global, ketika pasar saham mulai dirundung kekhawatiran akan koreksi setelah reli panjang yang digerakkan oleh sektor teknologi dan kecerdasan buatan.
Sejak awal tahun, harga emas telah melonjak lebih dari 50 persen, didorong oleh gejolak geopolitik, ketegangan perdagangan, serta ketidakpastian ekonomi global yang terus membayangi.
Krisis politik di Prancis turut menambah sentimen positif bagi emas minggu ini, menyusul pengunduran diri perdana menteri setempat dan desakan agar Presiden Emmanuel Macron menggelar pemilu dini.
Emas — simbol klasik keamanan finansial di masa krisis — sempat mencapai puncak $4.006,68 pada perdagangan Rabu, bahkan ketika dolar AS justru menguat terhadap mayoritas mata uang dunia.
Kenaikan logam mulia ini diikuti oleh pergerakan perak yang juga mendekati rekor tertinggi sepanjang sejarahnya, menunjukkan meningkatnya permintaan terhadap aset fisik yang dianggap tahan inflasi.
Mengutip laporan AFP, situasi politik Amerika Serikat turut memperkuat kekhawatiran pasar, dengan penutupan sebagian pemerintahan yang menunda publikasi data ekonomi penting dan memperkeruh arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
“Kenaikan cepat harga emas didukung oleh meningkatnya aliran masuk ke (dana yang diperdagangkan di bursa) dan pembelian oleh bank sentral, termasuk permintaan kuat dari China, karena emas diuntungkan dari ketidakpastian politik, ekonomi, dan inflasi,” tulis Taylor Nugent dari National Australia Bank.
Sementara emas menikmati lonjakan permintaan, pasar saham Asia justru menunjukkan kehati-hatian setelah nilai ratusan miliar dolar mengalir ke sektor kecerdasan buatan dan teknologi berisiko tinggi.
Reli AI yang mendongkrak valuasi raksasa semikonduktor Nvidia hingga melampaui $4 triliun mulai menimbulkan tanda-tanda kejenuhan, apalagi setelah laporan laba mengecewakan dari Oracle memicu penurunan tajam di Wall Street.
“Dalam pasar yang dihargai untuk kesempurnaan, setiap penundaan arus kas — bahkan yang bersifat sementara — terasa seperti bartender mengumumkan ‘panggilan terakhir’,” tulis Stephen Innes dari SPI Asset Management.
“Para pedagang tidak menunggu klarifikasi; mereka hanya mulai mengurangi posisi mereka. Kisah Oracle tidak menghentikan pesta, tetapi pasti membuat suasana lebih tenang.”
Gelombang penjualan saham teknologi menyapu pasar Asia, terutama di Hong Kong dan Taipei, sementara Sydney dan Singapura juga mencatat pelemahan.
Di sisi lain, Tokyo masih sedikit menguat berkat optimisme terhadap kebijakan pro-bisnis dari Sanae Takaichi, kandidat konservatif yang diharapkan membawa stimulus ekonomi baru dan pelonggaran moneter lebih lanjut.***