Pada awal Januari 2026, nilai tukar rial Iran terhadap dolar AS mengalami penurunan drastis hingga mencapai rekor terendah sepanjang sejarah. Di pasar paralel (open market), 1 dolar AS sempat diperdagangkan sekitar 1,47 juta rial pada awal Januari, bahkan sempat menyentuh 1,45 juta rial pada akhir Desember 2025. Ini berarti rial kehilangan hampir setengah nilai dibandingkan awal 2025 (sekitar 700.000–900.000 rial per dolar).
Penurunan tajam ini menjadi salah satu pemicu utama gelombang protes besar-besaran yang melanda seluruh 31 provinsi Iran sejak akhir Desember 2025. Protes yang awalnya dimulai dari pedagang di Grand Bazaar Tehran karena kenaikan harga barang impor dan emas, cepat berkembang menjadi tuntutan politik anti-pemerintah.
Penyebab Utama Anjloknya Rial Sebelum Protes Meledak
Penurunan rial bukan hal baru—Iran telah mengalami devaluasi kronis selama bertahun-tahun akibat sanksi internasional, korupsi, dan ketergantungan pada minyak. Namun, akhir 2025 menjadi titik kritis:
Penghapusan Kurs Preferensial: Pemerintah mengusulkan penghapusan kurs subsidi (sekitar 285.000 rial per dolar) untuk impor barang pokok (kecuali obat dan gandum). Kurs ini selama ini jadi sumber “rent-seeking” bagi elite terkait rezim. Penolakan parlemen terhadap anggaran ini memicu kepanikan pasar.
Inflasi Tinggi: Inflasi mencapai 42–48% pada akhir 2025, membuat harga pangan naik 60–70%. Masyarakat berbondong-bondong beli dolar, emas, atau barang untuk lindung nilai.
Sanksi & Pendapatan Minyak Turun: Sanksi AS yang diperketat kembali (termasuk di era Trump) membatasi ekspor minyak. Harga minyak global rendah (~$60 per barel) membuat pendapatan negara anjlok.
Konflik Regional: Kekalahan sekutu seperti Assad di Suriah dan dampak perang 12 hari dengan Israel pada 2025 mengurangi pengaruh dan pendapatan Iran.
Pada 28 Desember 2025, rial mencapai rekor rendah ~1,44–1,45 juta per dolar, memicu pedagang Grand Bazaar tutup toko dan demo.
Bagaimana Gelombang Protes Mempercepat Anjloknya Rial
Ketidakpastian politik membuat warga semakin buru-buru tukar rial ke dolar atau emas. Ini meningkatkan permintaan dolar di pasar gelap, mendorong nilai tukar lebih rendah (hingga 1,47 juta per dolar pada 6 Januari 2026).
Pemerintah memutus internet nasional sejak awal Januari untuk halangi koordinasi protes. Ini mengganggu transaksi bisnis, impor, dan kepercayaan investor asing/domestik.
Ribuan pedagang mogok di bazaar dan kota-kota besar, menghentikan perdagangan. Ini mengurangi pasokan barang, naikkan harga lebih tinggi, dan tekan rial lagi.
Bank Sentral ganti gubernur dan janji subsidi baru (seperti kupon makanan bulanan ~40 juta rial atau ~$26 per keluarga), tapi dianggap tidak cukup. Upaya stabilisasi gagal karena kurang kepercayaan publik.
Laporan Iran International sebut ribuan tewas dalam 48 jam (Januari 2026) akibat represi. Kekerasan ini bikin investor asing kabur dan tekanan internasional naik, memperburuk akses ke devisa.
