Direktur Utama Ryanair Michael O’Leary mengaku keluar sebagai “pemenang” dalam perang kata-kata terbukanya dengan Elon Musk. Perseteruan publik terkait penggunaan internet satelit Starlink itu, menurutnya, justru menjadi berkah promosi gratis yang mendongkrak pemesanan tiket maskapai.
“Kami mendapatkan seminggu penuh publisitas gratis yang luar biasa,” ujar O’Leary kepada para analis saat konferensi pengumuman laba kuartalan Ryanair, Senin. Ia menyebut perselisihan tersebut memicu sekitar 1.500 artikel berita di hampir 60 negara.
“Banyak dari mereka mungkin sebelumnya belum pernah mendengar tentang Ryanair, tapi sekarang pasti sudah,” tambahnya.
Menurut O’Leary, selama polemik berlangsung, pemesanan tiket Ryanair naik sekitar 2 hingga 3 persen, sebuah lonjakan yang signifikan bagi maskapai berbiaya rendah terbesar di Eropa itu.
Awal Perseteruan: Starlink dan Biaya Operasional
Konflik terbuka ini bermula pada 14 Januari, ketika O’Leary secara tegas menolak rencana pemasangan layanan internet satelit Starlink milik SpaceX di armada Ryanair yang berjumlah sekitar 650 pesawat.
Ia beralasan, pemasangan antena Starlink akan menambah hambatan aerodinamika yang berujung pada kenaikan konsumsi bahan bakar hingga 2 persen. Selain itu, teknologi tersebut diperkirakan akan menambah biaya operasional tahunan sebesar US$200–250 juta.
Dalam sebuah podcast, O’Leary bahkan menyebut Musk sebagai “idiot”. Pernyataan itu dibalas Musk dengan menyebut O’Leary sebagai “idiot total” dan menyarankan agar ia dicopot dari jabatannya sebagai CEO.
Dari Sindiran Jadi Strategi Marketing
Alih-alih meredam kontroversi, Ryanair justru memanfaatkan momen tersebut sebagai strategi pemasaran. Maskapai ini meluncurkan promosi jenaka bertajuk “Big Idiot Seat Sale”, menawarkan 100.000 tiket diskon dengan harga mulai dari US$20.
Promosi tersebut secara terang-terangan menyindir Musk. Dalam unggahan di platform X, Ryanair menulis: “Jangan berterima kasih pada kami, tapi pada ‘IDIOT’ besar itu, Elon Musk.”
Berbicara kepada media nasional Irlandia, RTÉ, O’Leary menyebut insiden ini sebagai contoh “negosiasi publik yang berubah menjadi hadiah PR yang luar biasa.”