BAGHDAD, IRAK – Serangan roket mengguncang Bandara Internasional Baghdad, Irak, pada Senin malam (28/6/2025), melukai dua orang dan memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Insiden ini menambah panas situasi keamanan yang sudah tegang akibat serangkaian serangan serupa dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut sumber keamanan Irak, tiga roket menghantam perimeter bandara, dengan salah satu proyektil mendarat di dekat landasan pacu.
“Dua orang terluka akibat serangan ini, dan kerusakan terjadi pada beberapa fasilitas bandara,” kata seorang pejabat keamanan yang enggan disebutkan namanya, seperti dikutip dari Reuters.
Tidak ada kelompok yang secara resmi mengaku bertanggung jawab atas serangan ini hingga berita ini ditulis.
Serangan Berulang di Tengah Ketegangan Regional
Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara milisi bersenjata dan pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat yang ditempatkan di Irak. Bandara Baghdad, yang menjadi salah satu pusat operasi militer dan sipil, kerap menjadi sasaran serangan roket dan drone dalam beberapa tahun terakhir. Pekan lalu, serangan serupa juga dilaporkan menargetkan pangkalan militer di wilayah tersebut.
“Serangan ini menunjukkan bahwa situasi keamanan di Irak masih sangat rapuh,” ujar analis keamanan Timur Tengah, Dr. Ahmad Al-Rashid, dalam wawancara dengan Al Jazeera.
Ia menambahkan bahwa serangan tersebut kemungkinan terkait dengan ketegangan politik antara faksi-faksi bersenjata dan pemerintah Irak yang didukung Barat.
Dampak pada Operasional Bandara
Pihak berwenang Irak segera menutup sementara Bandara Internasional Baghdad untuk mengevaluasi kerusakan dan memastikan keamanan. Beberapa penerbangan dialihkan ke bandara lain, sementara penyelidikan atas insiden ini terus dilakukan.
“Kami sedang bekerja untuk memulihkan operasi bandara secepat mungkin,” kata juru bicara otoritas penerbangan sipil Irak.
Respons Internasional dan Kekhawatiran Eskalasi
Komunitas internasional bereaksi keras terhadap serangan ini. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Ned Price, mengecam serangan tersebut dan menyerukan agar pelaku diadili.
“Serangan terhadap infrastruktur sipil adalah tindakan yang tidak dapat diterima,” katanya dalam pernyataan resmi.
Di sisi lain, beberapa pengamat memperingatkan bahwa serangan ini dapat memicu respons militer dari pasukan koalisi, yang berpotensi memperburuk situasi di Irak.
“Kami khawatir ini akan menjadi siklus kekerasan yang sulit dihentikan,” ungkap seorang diplomat PBB yang berbasis di Baghdad.
Irak telah lama menjadi medan pertempuran berbagai kepentingan regional dan internasional. Milisi yang didukung Iran sering dituduh berada di balik serangan terhadap target AS dan sekutunya di Irak, meskipun kelompok-kelompok ini jarang secara terbuka mengakui keterlibatan mereka. Sementara itu, pemerintah Irak berjuang untuk menyeimbangkan hubungan dengan sekutu Barat dan tekanan dari faksi-faksi bersenjata di dalam negeri.
Hingga kini, penyelidikan masih berlangsung untuk mengidentifikasi pelaku dan motif di balik serangan roket ini. Situasi di Bandara Internasional Baghdad terus dipantau ketat, dengan pasukan keamanan Irak memperketat pengamanan di sekitar fasilitas strategis tersebut.