JAKARTA – Perjuangan panjang 22 warga negara Indonesia (WNI) untuk keluar dari Iran akhirnya berbuah hasil. Mereka tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Selasa (10/3/2026) sore setelah menempuh perjalanan evakuasi melalui jalur darat yang melelahkan dengan melewati Azerbaijan sebelum meneruskan penerbangan dari Turki menuju Indonesia.
Proses evakuasi yang difasilitasi Kementerian Luar Negeri itu dipicu oleh eskalasi konflik bersenjata antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat yang kian memanas. Para WNI diminta mengisi formulir pendaftaran kepulangan yang dibuka selama dua hari, yakni Selasa dan Rabu, 4–5 Maret 2026, setelah pemerintah membuka kesempatan itu sejak Selasa, 3 Maret 2026.
Zulfan Lindan, salah seorang WNI yang mengikuti proses evakuasi, menuturkan bahwa rombongan baru bertolak dari Teheran pada dini hari Jumat seusai bermalam di hotel pada Kamis.
“Dua hari kami mengisi formulir. Hari Kamis kami ke Kota Teheran dan menginap di hotel. Hari Jumat pagi, subuh, kami berangkat,” kata Zulfan dalam konferensi pers di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Selasa (10/3/2026).
Perjalanan darat dari Teheran menuju perbatasan Iran–Azerbaijan saja menghabiskan waktu sekitar sembilan jam. Setibanya di pos perbatasan, rombongan masih harus bersabar menunggu selama lima jam untuk menyelesaikan pemeriksaan di imigrasi Iran.
“Nah, subuh kami baru berangkat. Sekitar sembilan jam sampai ke perbatasan Iran. Yang lama itu lima jam kami menunggu di imigrasi Iran,” ungkap Zulfan.
Tak hanya kelelahan fisik, para WNI juga harus melalui situasi yang mencekam selama proses evakuasi. Zulfan mengisahkan, saat masih berada di lingkungan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran, ia menyaksikan sekitar 10 rudal melintas di udara. Suara ledakan bahkan masih terdengar dari jarak satu hingga dua kilometer dan cukup keras hingga membuat kaca gedung kedutaan bergetar.