JAKARTA – Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat pada awal perdagangan Selasa, 10 Maret 2026, setelah sebelumnya sempat melemah tajam hingga mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS.
Pergerakan mata uang Garuda ini menjadi perhatian pelaku pasar karena sehari sebelumnya rupiah sempat jatuh hingga menyentuh kisaran Rp17.000 sebelum akhirnya ditutup di level Rp16.949 per dolar AS pada perdagangan Senin, 9 Maret 2026.
Data pasar Bloomberg pada pukul 11.00 WIB menunjukkan rupiah berada di posisi Rp16.894 per dolar AS atau menguat sekitar 0,32 persen dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya.
Penguatan rupiah tersebut dinilai sejalan dengan proyeksi sejumlah analis yang sebelumnya memperkirakan adanya perbaikan nilai tukar seiring perubahan sentimen global.
Analis pasar uang Lukman Leong menyebut penguatan rupiah dipengaruhi koreksi dolar AS yang terjadi di tengah membaiknya suasana pasar keuangan global.
“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang terkoreksi di tengah membaiknya sentimen pasar,” kata Lukman Leong.
Ia menjelaskan tekanan terhadap dolar AS juga berkaitan dengan meredanya lonjakan harga minyak dunia yang sebelumnya memicu kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan gangguan pasokan energi global.
Selain faktor harga energi, pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai perkembangan konflik global juga turut memengaruhi psikologi pasar.
“Trump juga mengatakan sedang mempertimbangkan untuk mengambil alih pengamanan Selat Hormuz,” ucap Lukman.
Rencana tersebut disampaikan Trump dengan alasan menjaga stabilitas jalur distribusi energi dunia yang selama ini bergantung pada keamanan kawasan Selat Hormuz.
Selain itu, Trump juga memberi sinyal kemungkinan pelonggaran sanksi minyak terhadap Rusia yang dinilai berpotensi menambah pasokan energi global di pasar internasional.
Berdasarkan perkembangan tersebut, Lukman memproyeksikan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini akan berada di kisaran Rp16.800 hingga Rp16.950 per dolar AS.
Di sisi lain, perkembangan harga minyak global juga menjadi faktor penting yang memengaruhi arah pasar keuangan termasuk pergerakan mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Kepala Ekonom Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto menyebut harga minyak dunia mulai menunjukkan tren penurunan setelah sebelumnya hampir menembus level USD120 per barel.
“Harga minyak Brent maupun WTI kembali diperdagangkan di bawah USD90 per barrel,” kata Rully Arya Wisnubroto.
Menurutnya penurunan harga minyak tersebut dipicu oleh sinyal dari pemerintah Amerika Serikat mengenai potensi normalisasi jalur distribusi energi di Selat Hormuz dalam waktu yang lebih cepat dari perkiraan.
Rully menjelaskan Trump memberi indikasi bahwa kondisi di Selat Hormuz bisa kembali stabil dalam beberapa pekan ke depan, bukan dalam hitungan bulan seperti prediksi sebelumnya.
“Namun, hal ini masih belum bisa dipastikan karena hanya merupakan sinyal niat politik dan upaya menenangkan pasar,” ujar Rully.
Ia menegaskan pernyataan tersebut belum dapat dianggap sebagai jaminan bahwa jalur distribusi energi di kawasan tersebut benar-benar akan kembali beroperasi secara normal dalam waktu dekat.
Rully juga mengingatkan bahwa rekam jejak pernyataan Trump di masa lalu menunjukkan sinyal politiknya tidak selalu dapat dijadikan satu-satunya acuan oleh pelaku pasar.
Faktor yang paling menentukan stabilitas jalur Selat Hormuz tetap bergantung pada situasi di lapangan serta sikap Iran dan para pelaku industri pelayaran global.
“Pasar saat ini lebih digerakkan oleh berita geopolitik yang tiap saat cepat berubah,” katanya.
Ia menambahkan pergerakan pasar global saat ini lebih dipengaruhi dinamika politik internasional dibandingkan faktor fundamental klasik seperti keseimbangan suplai dan permintaan energi.
Hingga sesi kedua siang ini (13.50 WIB), rupiah di level Rp16.866 per dolas AS naik 0,49 persen (83 poin).***