JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berada dalam tekanan kuat. Rupiah sempat menembus level Rp16.955 per dolar AS dan terus berfluktuasi di kisaran Rp16.950–Rp16.980 pada perdagangan Rabu (21/1/2026).
Pelemahan ini mencerminkan ketidakpastian pasar global dan domestik, termasuk pengaruh penguatan dolar AS serta sentimen terhadap kebijakan fiskal dan moneter Indonesia.
Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKB, Hasanuddin Wahid alias Cak Udin, mendesak Bank Indonesia (BI) untuk bertindak lebih tegas, terukur, dan responsif guna menstabilkan rupiah. Ia menilai kondisi tersebut bukan sekadar fluktuasi pasar biasa, melainkan ancaman serius terhadap ketahanan ekonomi nasional yang memerlukan intervensi kuat.
“Bank Indonesia perlu memperkuat langkah stabilisasi nilai tukar rupiah melalui kebijakan moneter yang terukur, termasuk intervensi pasar valuta asing serta penguatan koordinasi kebijakan dengan pemerintah. Stabilitas nilai tukar adalah fondasi penting bagi ketahanan ekonomi nasional,” tegas Cak Udin di Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Cak Udin, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal DPP PKB, turut menyoroti peran Kementerian Keuangan dalam menjaga disiplin fiskal. Ia menekankan pentingnya pengelolaan defisit anggaran dan pembiayaan utang yang prudent untuk mempertahankan kepercayaan investor serta meredam sentimen negatif di pasar.
“Kepercayaan pasar tidak hanya ditentukan oleh kebijakan moneter, tetapi juga oleh konsistensi dan kehati-hatian fiskal. Pemerintah harus memastikan arah kebijakan fiskal tetap sehat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Menurutnya, sinergi erat antara kebijakan moneter BI dan kebijakan fiskal pemerintah menjadi kunci utama agar respons terhadap gejolak nilai tukar lebih terintegrasi, cepat, dan berdampak efektif. Koordinasi berkelanjutan ini diharapkan mampu mengurangi volatilitas rupiah di tengah dinamika ekonomi global.
Lebih lanjut, Cak Udin mendorong penguatan sektor eksternal sebagai strategi jangka menengah hingga panjang. Langkah konkret meliputi peningkatan ekspor produk bernilai tambah tinggi, pengendalian impor barang strategis, serta optimalisasi devisa hasil ekspor untuk menjaga pasokan valuta asing domestik.
“Penguatan sektor eksternal adalah kunci jangka menengah dan panjang agar rupiah tidak terus rentan terhadap gejolak global,” pungkas Cak Udin.
Pelemahan rupiah belakangan ini dipicu berbagai faktor, mulai dari penguatan indeks dolar AS akibat sentimen global hingga kekhawatiran domestik terkait stabilitas keuangan. Pelaku pasar kini menanti langkah konkret dari otoritas terkait untuk mengembalikan kepercayaan dan mencegah depresiasi lebih dalam mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS.
