JAKARTA – Mata uang rupiah berhasil mencatatkan penguatan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat pada akhir perdagangan Selasa, 3 Februari 2026, di tengah gelombang optimisme dari perkembangan geopolitik dan hubungan perdagangan internasional. Tren positif ini mencerminkan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Menurut catatan Bloomberg, rupiah berakhir di level Rp16.754 per USD, naik 44 poin atau setara 0,26 persen dari posisi sebelumnya di Rp16.798 per USD. Sepanjang sesi perdagangan, nilai tukar berfluktuasi antara Rp16.751 hingga Rp16.783 per USD. Secara keseluruhan sejak awal tahun, rupiah telah menguat sekitar 0,44 persen. Rupiah pada pagi hari juga tercatat menguat menjadi sekitar Rp16.762 per USD saat pembukaan pasar.
Kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) juga menunjukkan penguatan rupiah dibandingkan hari sebelumnya. Nilai tukar rupiah memasuki perdagangan Selasa pagi menguat 36 poin menjadi Rp16.762 per dolar AS dari posisi sebelumnya di Rp16.798 per dolar AS. Pergerakan ini mencerminkan sentimen positif dari faktor global dan domestik. Rata-rata kurs spot menurut data pasar juga memperlihatkan rupiah berada di kisaran Rp16.765 sampai Rp16.795 per USD di tengah volatilitas pasar.
Analis keuangan Ibrahim Assuaibi mengungkapkan bahwa pada perdagangan sore ini mata uang rupiah ditutup menguat 44 poin. Pergerakan ini sempat mengalami penguatan awal sebelum akhirnya ditutup di level tersebut. Ia mencatat tren fluktuatif yang kuat di tengah dinamika pasar.
Faktor utama di balik lonjakan ini berasal dari pernyataan Presiden AS mengenai kemajuan dialog dengan Iran soal isu nuklir, di mana kedua pihak disebut serius berbicara dan dijadwalkan melanjutkan pertemuan di Turki. Pernyataan ini diikuti deregulasi risiko yang dapat menenangkan pasar keuangan global.
Di bidang perdagangan, terdapat pengumuman kesepakatan antara AS dan India terkait tarif impor yang disampaikan melalui percakapan antara Presiden AS dan Perdana Menteri India. Kesepakatan ini mencakup pengurangan tarif impor AS terhadap barang India serta komitmen India terhadap hubungan energi dan dagang baru, yang ikut memengaruhi sentimen pasar.
Penunjukan calon ketua bank sentral AS oleh pemerintahan saat ini juga disebut membantu menenangkan pasar dengan menciptakan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih terukur.
Dari dalam negeri, sektor manufaktur memberikan dorongan tambahan. Indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia versi S&P Global melonjak ke level ekspansi yang stabil, terutama didorong oleh output dan pesanan baru dari pasar lokal. Survei menunjukkan adanya peningkatan produksi dan permintaan baru meskipun permintaan ekspor menurun akibat tarif perdagangan global.
Meskipun demikian, analis memperkirakan rupiah akan bergerak volatil dengan potensi tekanan pada sesi perdagangan berikutnya. Pergerakan ini menunjukkan bahwa meskipun rupiah tertopang oleh sentimen positif, ancaman dari ketidakpastian geopolitik masih menjadi faktor risiko bagi pergerakan nilai tukar di masa depan.