WASHINGTON, AS – Amerika Serikat (AS) mengantongi bukti intelijen bahwa Rusia diam-diam memberikan informasi penting kepada Iran, yang dapat digunakan untuk menyerang kapal perang, pesawat tempur, dan personel militer AS di kawasan Teluk . Keterlibatan Moskow ini menjadi indikasi pertama bahwa poros Rusia-Iran semakin menguat di tengah konflik terbuka melawan kekuatan Barat.
Menurut dua pejabat AS yang mengetahui langsung masalah ini, informasi yang dibagikan mencakup data intelijen yang dapat membantu Teheran mengidentifikasi dan menargetkan aset-aset Amerika. “Ini adalah langkah eskalasi yang signifikan,” ujar seorang pejabat yang berbicara dengan syarat anonim karena tidak berwenang mengumumkan hal ini kepada publik . Kendati demikian, para pejabat menegaskan bahwa sejauh ini belum ditemukan bukti yang menunjukkan Rusia mengarahkan Iran tentang cara menggunakan informasi tersebut atau mengoordinasikan serangan secara langsung .
Langkah Moskow ini dinilai semakin memperumit peta geopolitik di kawasan. Rusia termasuk dalam segelintir negara yang masih menjalin hubungan erat dengan Teheran, yang selama bertahun-tahun terisolasi akibat program nuklirnya serta dukungannya terhadap kelompok proksi seperti Hizbullah, Hamas, dan Houthi . Kolaborasi intelijen ini terjadi di tengah gempuran militer AS dan Israel yang menargetkan infrastruktur militer Iran sebagai balasan atas serangan sebelumnya.
Respons Gedung Putih: “Tidak Membuat Perbedaan”
Meski keberadaan aliran intelijen ini diakui, Gedung Putih berusaha meredam kekhawatiran akan dampaknya di medan perang. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, dalam pernyataannya kepada wartawan pada Jumat (6/3/2026) meremehkan signifikansi bantuan tersebut.
“Hal itu jelas tidak membuat perbedaan apa pun terkait operasi militer di Iran karena kita benar-benar menghancurkan mereka,” ujar Leavitt tegas . Ia menolak berkomentar lebih jauh mengenai apakah Presiden Donald Trump telah membahas masalah ini dengan Presiden Rusia Vladimir Putin atau apakah Rusia akan menghadapi konsekuensi atas tindakannya. “Saya akan membiarkan presiden yang berbicara tentang hal itu,” tambahnya .
Sikap serupa juga ditunjukkan oleh Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth. Ia mengatakan kepada CBS News bahwa AS terus memantau situasi dengan cermat. “Kami melacak semuanya. Komandan kami mengetahui siapa berbicara dengan siapa dan bagaimana mengintegrasikannya ke dalam rencana pertempuran kami,” kata Hegseth, memastikan bahwa setiap aktivitas yang tidak seharusnya terjadi akan dihadapi .
Di tengah klaim AS tersebut, laporan menyebutkan bahwa serangan Iran sejauh ini memang belum berhasil mengenai kapal perang AS, meskipun serangan drone di pangkalan militer di Kuwait dan fasilitas di Bahrain telah menewaskan sejumlah personel AS .
Bantahan Diplomatik Kremlin
Di sisi lain, Kremlin membantah telah menerima permintaan bantuan militer dari Teheran. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan bahwa pihaknya terus menjalin dialog dengan kepemimpinan Iran. Namun, ketika didesak apakah Moskow telah memberikan bantuan militer atau intelijen sejak konflik dimulai, Peskov menahan diri untuk tidak berkomentar .
“Kami sedang berdialog dengan pihak Iran, dengan perwakilan kepemimpinan Iran, dan tentu akan melanjutkan dialog ini. Dalam hal ini, tidak ada permintaan dari pihak Iran,” kata Peskov kepada wartawan di Moskow, merujuk pada bantuan militer langsung .
Simetri Perang dan Dampak Global
Pengungkapan ini menyoroti hubungan timbal balik yang semakin erat antara Moskow dan Teheran. Sejak invasi Rusia ke Ukraina, Iran dikenal sebagai pemasok utama drone serang Shahed ke Rusia, bahkan membantu Kremlin membangun pabrik pembuatan drone . Sebaliknya, AS kini menuding Rusia membayar “utang” tersebut dengan berbagi intelijen militer.
Situasi ini memicu kekhawatiran baru di Washington. Dengan Pentagon yang terus bertempur di Timur Tengah, Presiden Trump pekan ini mengeluhkan habisnya persediaan senjata canggih AS yang sebelumnya dikucurkan besar-besaran untuk Ukraina di era mantan Presiden Joe Biden, tanpa diimbangi pengisian ulang cadangan dalam negeri .
Meskipun berada di pihak yang berseberangan dalam konflik ini, Leavitt masih membuka peluang diplomasi. Ketika ditanya apakah pengungkapan ini mengguncang kepercayaan Trump pada Putin untuk mencapai perdamaian di Ukraina, ia menyatakan,
“Saya pikir presiden akan mengatakan bahwa perdamaian masih merupakan tujuan yang dapat dicapai sehubungan dengan perang Rusia-Ukraina” .