MOSKOW, RUSIA – Rusia melancarkan serangan udara paling masif ke wilayah Ukraina pada Kamis (10/7), menargetkan infrastruktur vital dan permukiman warga. Aksi ini terjadi hanya beberapa hari setelah Presiden AS terpilih Donald Trump secara terbuka mengkritik Presiden Rusia Vladimir Putin, menyebutnya sebagai “pemimpin yang lemah” dalam sebuah wawancara eksklusif.
Serangan yang digambarkan sebagai “eskalasi dramatis” oleh pejabat Ukraina ini melibatkan puluhan rudal dan drone kamikaze yang menghantam kota-kota besar seperti Kyiv, Kharkiv, dan Odesa. Ledakan besar terdengar di ibu kota Ukraina, menyebabkan kerusakan parah pada jaringan listrik dan pasokan air.
“Rusia ingin menunjukkan kekuatan mereka di tengah ketegangan geopolitik,” ujar Andriy Yermak, Kepala Staf Presiden Ukraina, dalam pernyataan resminya. “Kami tidak akan menyerah, dan dunia harus melihat agresi ini sebagai ancaman terhadap stabilitas global,” tambahnya.
Dampak Serangan dan Respons Ukraina
Menurut laporan resmi, sedikitnya 15 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka akibat serangan ini. Tim penyelamat masih berjuang mengevakuasi korban dari reruntuhan bangunan di Kyiv. Sistem pertahanan udara Ukraina berhasil menembak jatuh sebagian rudal, namun intensitas serangan membuat beberapa target sipil tak dapat dihindari.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengecam keras aksi Rusia ini melalui akun media sosialnya. “Rusia menyerang rakyat kami dengan kebrutalan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dunia harus bertindak sekarang!” tulisnya.
Konteks di Balik Serangan
Serangan ini terjadi di tengah sorotan dunia terhadap pernyataan Donald Trump yang menyinggung Putin. Dalam wawancara dengan media AS, Trump mengatakan, “Putin bukan lagi ancaman yang sama seperti dulu. Dia kehilangan kendali, dan Rusia sedang berjuang untuk mempertahankan pengaruhnya.” Pernyataan ini diyakini memicu respons keras dari Kremlin, yang menurut analis menjadi salah satu pemicu serangan udara kali ini.
“Serangan ini bisa dilihat sebagai pesan politik dari Rusia, baik untuk Ukraina maupun untuk Barat,” ungkap Dr. Olena Petrova, analis politik dari Universitas Kyiv. “Moskow ingin menegaskan bahwa mereka masih menjadi kekuatan yang harus diperhitungkan.”
Reaksi Dunia dan Langkah ke Depan
Komunitas internasional dengan cepat mengecam serangan Rusia. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyebut serangan ini sebagai “pelanggaran nyata terhadap hukum internasional.” Sementara itu, NATO mengumumkan akan menggelar pertemuan darurat untuk membahas eskalasi konflik di Ukraina.
Di sisi lain, Ukraina kembali meminta bantuan militer tambahan, termasuk sistem pertahanan udara canggih, untuk menghadapi ancaman Rusia yang semakin intens. “Kami membutuhkan lebih dari sekadar solidaritas. Kami butuh senjata untuk melindungi rakyat kami,” tegas Zelenskyy.
Situasi Terkini
Hingga Jumat pagi, sirene serangan udara masih berbunyi di beberapa wilayah Ukraina, sementara Rusia belum memberikan pernyataan resmi terkait serangan ini. Warga Kyiv terlihat berlindung di bunker dan stasiun metro, sementara pasukan Ukraina terus memperkuat pertahanan kota.
Konflik yang terus memanas ini menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut, terutama dengan keterlibatan aktor global seperti AS dan NATO. Dunia kini menanti langkah konkret untuk meredakan ketegangan, sambil berharap penderitaan rakyat Ukraina dapat segera berakhir.