KYIV, UKRAINA – Rusia kembali menggunakan rudal balistik hipersonik Oreshnik dalam serangan besar-besaran terhadap Ukraina pada malam Kamis (9/1/2026), menargetkan wilayah barat dekat perbatasan dengan Polandia, anggota NATO. Serangan ini merupakan penggunaan kedua rudal tersebut sejak pertama kali dikerahkan pada November 2024, dan dianggap sebagai eskalasi signifikan serta peringatan bagi Eropa dan Amerika Serikat.
Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan peluncuran Oreshnik dilakukan sebagai respons terhadap dugaan serangan drone Ukraina terhadap salah satu kediaman Presiden Vladimir Putin di wilayah Novgorod pada akhir Desember 2025. Klaim ini dibantah keras oleh Kyiv, yang menyebutnya sebagai “kebohongan tak masuk akal” untuk mengganggu proses perundingan damai. Presiden AS Donald Trump juga menyatakan ketidakpercayaannya terhadap kejadian tersebut.
Menteri Luar Negeri Ukraina, Andriy Sybiha, mengecam keras serangan ini melalui platform X.
“Serangan seperti itu di dekat perbatasan Uni Eropa dan NATO merupakan ancaman serius bagi keamanan di Benua Eropa dan ujian bagi komunitas transatlantik,” kata Sybiha.
“Sungguh tidak masuk akal bahwa Rusia mencoba membenarkan serangan ini dengan serangan terhadap kediaman Putin palsu yang tidak pernah terjadi,” tambahnya.
Menurut Sybiha, serangan ini merupakan ancaman global.
“Putin menggunakan rudal balistik jarak menengah (IRBM) di dekat perbatasan Uni Eropa dan NATO sebagai respons terhadap halusinasi pribadinya. Ini benar-benar ancaman global dan menuntut respons global,” ujarnya.
Rudal Oreshnik, yang mampu membawa hulu ledak nuklir dan diklaim Moskow tak bisa dicegat, menghantam wilayah Lviv, sekitar 60 kilometer dari perbatasan Polandia. Moskow mengklaim targetnya adalah fasilitas produksi drone dan infrastruktur energi, sementara pihak Ukraina menyebut serangan mengenai infrastruktur sipil.
Serangan malam itu melibatkan total 242 drone dan 36 rudal berbagai jenis, termasuk satu Oreshnik yang melaju dengan kecepatan sekitar 13.000 km/jam. Di Kyiv, serangan drone menyebabkan empat orang tewas dan lebih dari 20 luka-luka, memutus aliran listrik ke sebagian besar kota, merusak Kedutaan Qatar, dan memaksa warga berlindung di tempat perlindungan bawah tanah di tengah suhu beku sekitar -10 derajat Celsius.
Wali Kota Kyiv melaporkan salah satu korban adalah petugas medis darurat yang tewas akibat dua serangan drone beruntun, dengan jenazahnya tertutup salju di pinggir jalan. Video dari koresponden perang Rusia menunjukkan enam kilatan cahaya menghantam tanah diikuti ledakan keras bertubi-tubi.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyebut penggunaan Oreshnik sebagai eskalasi nyata.
“Penggunaan rudal Oreshnik oleh Rusia merupakan eskalasi yang jelas terhadap Ukraina dan dimaksudkan sebagai peringatan bagi Eropa dan AS,” kata Kallas di X.
“Negara-negara Uni Eropa harus meningkatkan persediaan pertahanan udara mereka dan segera bertindak. Kita juga harus meningkatkan biaya perang ini bagi Moskow, termasuk melalui sanksi yang lebih keras,” tambahnya.
Analis pertahanan Doug Barry dari International Institute for Strategic Studies di London menyatakan penggunaan ulang rudal ini memunculkan pertanyaan apakah Rusia menggunakan stok uji coba lama atau telah memproduksi versi baru secara massal.
Serangan ini terjadi di tengah upaya diplomatik yang intens untuk mencapai perdamaian, termasuk keterlibatan AS di bawah Presiden Trump. Namun, eskalasi senjata canggih ini semakin memperumit situasi keamanan Eropa dan menuntut respons tegas dari komunitas internasional.