JAKARTA – PT Rekayasa Industri (Rekind) selalu mengembangkan kompetensi melalui inovasi teknologi terbaiknya dalam setiap pengerjaan proyek.
Satu di antaranya, memitigasi terjadinya bencana di lingkungan proyek yang diemban, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan serta meminimalisir dampak kegiatan bagi masyarakat sekitar.
Rekind mulai mengembangkan kompetensi dan inovasi teknologi terbaiknya sejak awal perencanaan, konstruksi hingga akhir pelaksanaan kegiatan proyek.
Selain itu perusahaan EPC (Engineerimng, Procurement and Construction) Industrial Process milik negara itu juga kerap mengedepankan studi kajian detail melalui kolaborasi dengan para ahli kebencanaan, akademisi dan talenta internal engineer yang juga punya keahlian khusus di bidang manajemen risiko bencana.
Kemampuan tersebut terungkap ketika Rekind didaulat sebagai salah satu pembicara dalam Forum Diskusi Inovasi Klaster Infrastruktur dan Kebencanaan, di event Pameran Riset, Inovasi, dan Pengabdian Masyarakat (PRIMA) & CEO Summit 2025, Institut Teknologi Bandung (ITB), belum lama ini.
Semua tahapan proses tersebut dilakukan untuk memastikan potensi risiko kebencanaan, yang harus diidentifikasi sejak tahap perencanaan awal.
Salah satu bukti konkret akan keandalan Rekind dalam memitigasi risiko bisa dilihat dari kekuatan konstruksi PLTU Mamuju, di Sulawesi Bagian Selatan.
Pembangkit Listrik yang dibangun Rekind dan beroperasi sejak 2016 itu, tetap eksis dan beroperasi maksimal saat diguncang gempa berkekuatan 6,2 SR pada 15 Januari 2021.
Sejak awal konstruksi, oleh Rekind PLTU Mamuju didesain memiliki ketahanan gempa di atas 6.2 SR.
Inilah yang membuat PLTU ini tetap beroperasi secara normal. Selain itu, sampai sekarang tidak sedikit pembangkit dan pabrik pupuk yang dibangun Rekind pada era 80 atau 90 an, masih beroperasi dengan baik secara maksimal.

Rekind sendiri pernah mengedepankan kajian risiko tanah longsor pada saat perencanaan di sejumlah proyek.
Dalam kajian tersebut, desain awal Front End Engineering Design (FEED) infrastruktur yang dimiliki proyek itu, oleh Rekind teridentifikasi berpotensi meningkatkan risiko longsor.
Dalam mitigasi Rekind, selain berdampak pada aspek keselamatan, kondisi ini juga berpotensi menambah biaya proteksi dan memperpanjang waktu penyelesaian pekerjaan.
Rekind juga tidak ragu mengambil langkah strategis untuk meminimalkan risiko dan dampak yang mungkin timbul. Pihaknya selalu merekomendasikan perubahan konsep desain.
Bahkan, dalam kondisi tertentu ketika risiko dinilai tidak dapat dikelola secara optimal, Rekind memilih untuk mundur dari proses tender sebagai bentuk komitmen terhadap prinsip kehati-hatian.
Kajian serupa juga dilakukan terhadap risiko banjir bandang pada sebuah proyek, juga di tahun 2010.
Hasil assessment menunjukkan lokasi yang dipersyaratkan memiliki tingkat kerawanan banjir bandang yang tinggi, sehingga membutuhkan sistem proteksi tambahan yang berdampak pada peningkatan biaya dan durasi proyek.
Sebagai langkah mitigasi, Rekind merekomendasikan pemindahan lokasi pembangkit.
Apabila opsi tersebut tidak memungkinkan, maka keputusan untuk tidak melanjutkan tender menjadi pilihan yang diambil perusahaan demi menghindari risiko yang berpotensi merugikan proyek, masyarakat, dan lingkungan sekitar.
Dalam situasi darurat kebencanaan, saat pengerjaan proyek Rekind juga mengantongi pengalaman dengan memaksimalkan jaringan rekanan dan jalur logistik yang dimiliki, tidak hanya untuk penyaluran donasi, tetapi juga untuk mendukung proses pengadaan dan distribusi bantuan secara cepat dan tepat sasaran.
“Dari sisi teknologi, Rekind juga mengoptimalkan jaringan rekanan teknologi, antara lain melalui pemanfaatan teknologi sumur bor air bersih dengan sistem saringan khusus, serta teknologi pemurnian air laut agar dapat langsung digunakan sebagai air layak konsumsi bagi masyarakat terdampak.
Selain itu, Rekind juga memberdayakan peralatan berat konstruksi yang tersedia di lokasi proyek.
Alat berat seperti excavator, loader, dan dump truck dimobilisasi ke area terdampak bencana, dengan berkolaborasi bersama instansi pemerintah terkait, untuk membantu proses evakuasi dan penanganan darurat.***