JAKARTA – Gelombang kenaikan besar melanda saham energi Asia pada Senin (9/3/2026), seiring lonjakan dramatis harga minyak mentah global akibat memanasnya konflik di Timur Tengah yang menimbulkan kekhawatiran pasokan energi dunia terhenti dalam waktu lama.
Harga minyak Brent melonjak hingga mendekati USD116 per barel atau naik sekitar 25 persen di perdagangan tengah hari, sementara WTI turut menguat 27 persen menyentuh USD115 per barel, menandai level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Mengutip laporan Market Watch, Senin, kenaikan tajam ini mendorong reli luas di bursa regional, terutama di sektor energi yang menjadi tumpuan banyak negara Asia.
Saham CNOOC di Shanghai melejit 10 persen dan mencapai batas kenaikan harian, disusul PetroChina yang naik 7,6 persen serta Sinopec yang menguat 3,6 persen.
Pasar Hong Kong juga mengikuti tren serupa; CNOOC memimpin kenaikan di indeks Hang Seng dengan lonjakan 7 persen, sementara PetroChina menambah 3,6 persen.
Gelombang positif turut menular ke saham energi batu bara seperti China Shenhua Energy yang naik 4,5 persen, Yankuang Energy melonjak 7,7 persen, dan Ningxia Baofeng Energy menembus 10 persen.
Di Asia Tenggara, Hibiscus Petroleum Malaysia mencatat lompatan harga saham hingga 18,5 persen, disusul Petronas Chemicals dan Dialog Group yang masing-masing naik 7 dan 10 persen, sementara Lotte Chemical Titan menguat 14 persen.
Di Singapura, Rex International melesat 10,5 persen. Sementara itu, S-Oil Korea Selatan menambah 0,9 persen dan Inpex Jepang naik 2,8 persen.
Analis memperingatkan bahwa pasar kini sedang menilai risiko jangka panjang terhadap rantai pasokan global, akibat serangan yang menargetkan infrastruktur minyak Iran dan memicu potensi gangguan di Selat Hormuz—jalur vital yang menyumbang sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia.
“Naiknya harga minyak secara signifikan selalu menjadi katalis untuk sektor energi, sehingga peningkatan serentak di pasar Asia bukan hal mengejutkan,” jelas Chokwai Lee, Direktur Riset Ekuitas di Morningstar.
Pengamat pasar Priyanka Sachdeva dari Phillip Nova menilai bahwa serangan presisi terhadap fasilitas energi Iran merupakan upaya untuk melemahkan kemampuan balasan Tehran, yang justru meningkatkan risiko global terhadap pasokan bahan bakar.
Menurutnya, konflik yang melibatkan aliansi AS–Israel dan Iran berpotensi berkepanjangan setelah terpilihnya pemimpin tertinggi baru di Iran yang menunjukkan sikap keras terhadap negosiasi damai.
“Jika fasilitas produksi, jaringan pipa, atau terminal ekspor mengalami kerusakan permanen, dampaknya bisa meluas jauh melebihi durasi konflik,” ujarnya memperingatkan.***