PAPUA – Fenomena hujan salju kembali terjadi di wilayah Kabupaten Mimika, Papua Tengah, tepatnya di kawasan dataran tinggi Grasberg yang masuk area objek vital nasional PT Freeport Indonesia, Senin (26/1/2026) pagi. Peristiwa langka ini langsung menarik perhatian para pekerja tambang yang tak menyia-nyiakan momen tersebut.
Sejumlah karyawan terlihat bermain salju dan bergantian mengabadikan kejadian itu melalui foto serta video. Fenomena ini tergolong jarang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
“Lagi turun salju,” ungkap salah satu karyawan dalam video amatir yang diterima.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Timika memastikan fenomena tersebut merupakan hujan es berbentuk kristal yang terjadi akibat kondisi atmosfer tertentu di wilayah pegunungan tinggi Papua.
Prakirawan BMKG Timika, Marsareza, menjelaskan bahwa salju turun pada Senin pagi saat kawasan Tembagapura tertutup awan menengah dengan suhu udara ekstrem.
Ia menyebut suhu di lapisan atas atmosfer saat itu mencapai sekitar minus 28 derajat Celsius, kondisi yang memungkinkan terbentuknya kristal es sebelum jatuh ke permukaan.
Selain faktor suhu, ketinggian wilayah Grasberg juga berperan besar. Area tambang tersebut berada di kisaran 2.500 meter di atas permukaan laut, bahkan beberapa titik di Tembagapura mendekati 2.800 mdpl, yang dikenal sebagai zona pembentukan es di atmosfer.
“Memang untuk ketinggian seperti itu adalah daerah kondensasi yang bisa membentuk butiran es, jadi bukan lagi cair tapi kristal es, terdeteksinya memang 5 kilometer ke atas, jadi Tembagapura ini sekitar 2.800 (meter di atas permukaan laut) awannya memang lebih tinggi, kedeteksinya awan menengah, bisa jadi mengandung es ketika dia hujan, bukan bentuk air,” ujar Marsareza saat ditemui di Kantor BMKG Timika, Senin siang.
BMKG mencatat, kejadian serupa bukan yang pertama dalam beberapa tahun terakhir. Sejak 2023, fenomena hujan salju di wilayah Tembagapura telah terjadi setidaknya dua kali.
” Sekitar Tembagapura, awan-awan menengah banyak. Itu di jam 5 hingga 6 pagi. Saat itu Tembagapura ditutupi awan menengah, terdeteksi hujan ringan. Penyebabnya, awan menengah yang tebal. Suhu di atas memungkinkan terjadinya pembentukan salju. Ditambah hujan di pagi hari, jadi butiran yang turun itu masih dalam bentuk kristal es atau salju. Sementara di Timika hanya hujan kecil tadi pagi,” kata Reza.
Sementara itu, wilayah Timika yang berada di dataran rendah hanya mengalami hujan ringan pada waktu yang sama, tanpa fenomena es. BMKG mengingatkan bahwa kondisi cuaca ekstrem di wilayah pegunungan Papua dapat terjadi sewaktu-waktu, terutama saat tutupan awan tebal dan suhu lapisan atas atmosfer sangat dingin.
Fenomena salju di Grasberg kembali menjadi pengingat bahwa kawasan pegunungan tinggi Papua memiliki karakteristik cuaca unik yang berbeda jauh dibanding wilayah tropis Indonesia pada umumnya.