Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, Andhika Permata, mengatakan Jakarta saat ini tengah memosisikan diri sebagai kota modern yang tetap berakar kuat pada identitas budaya lokal.
“Dalam kacamata Pemprov, Jakarta saat ini positioning-nya adalah sebagai kota global dan berbudaya,” ujar Andhika dalam keterangannya.
Ia menjelaskan, Jakarta akan memasuki usia ke-499 tahun pada 22 Juni 2026. Sementara itu, tahun depan ibu kota akan merayakan tonggak sejarah lima abad perjalanan kota.
“Tahun ini Jakarta berumur 499 tahun, dan tahun depan Jakarta genap lima abad atau 500 tahun,” katanya.
Momentum bersejarah itu dinilai sejalan dengan perjalanan JGTC yang juga akan merayakan usia ke-50 tahun pada 2027. Karena itu, Pemprov DKI mulai membangun sinergi sejak sekarang dengan penyelenggara festival musik tersebut.
Kolaborasi Menuju Jakarta 500 Tahun
Menurut Andhika, kesamaan momentum antara ulang tahun Jakarta dan JGTC menjadi peluang besar untuk menghadirkan perhelatan musik berskala internasional yang merepresentasikan identitas kota.
“Mulai tahun ini kami sudah mulai membentuk sinergi antara Pemprov DKI Jakarta bersama teman-teman dari Jazz Goes to Campus,” ucapnya.
Kolaborasi itu akan dibingkai dalam tema The City Series, sebuah konsep yang menghubungkan perkembangan musik jazz dengan dinamika Jakarta sebagai kota metropolitan.
Pemprov menilai kehadiran festival musik seperti JGTC tidak hanya berhenti sebagai hiburan, tetapi mampu mendorong pertumbuhan sektor ekonomi kreatif.
“JGTC bagi kami tidak hanya sekadar konser musik, tapi membangun ekosistem. Musik adalah salah satu subsektor ekonomi kreatif,” kata Andhika.
Jazz Dinilai Adaptif dan Relevan
Andhika menilai jazz memiliki karakter fleksibel karena mampu berkolaborasi dengan berbagai aliran musik lain. Hal itu menjadi alasan mengapa genre tersebut masih relevan untuk terus dikembangkan di Jakarta.
“Jazz itu musik yang sangat adaptif, semua genre bisa masuk ke jazz,” ujarnya.
Karena sifat terbuka itu, Pemprov DKI mendorong lahirnya eksplorasi baru yang menggabungkan jazz dengan musik tradisional Betawi. Sejumlah kesenian lokal seperti gambang kromong dan tanjidor disebut memiliki potensi besar untuk dipadukan dalam format modern.
Siapkan Jazz Bernuansa Betawi
Pemprov bahkan menargetkan hadirnya pertunjukan jazz bernuansa khas Betawi pada perayaan besar tahun depan. Upaya ini disebut sebagai bagian dari strategi memperkuat identitas budaya Jakarta di tengah arus globalisasi.
“Targetnya tahun depan kita punya jazz yang Betawi vibe,” tutur Andhika.
Ia berharap sinergi antara pemerintah daerah dan komunitas kreatif mampu menjadikan Jakarta bukan hanya pusat bisnis dan pemerintahan, tetapi juga kota budaya yang hidup, inklusif, dan inovatif.
Dengan hitung mundur menuju usia 500 tahun, Jakarta kini mulai menata panggungnya—bukan hanya sebagai megapolitan dunia, tetapi juga rumah bagi kreativitas dan warisan budaya yang terus berkembang.