JAKARTA – Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) melalui Ditjen Dukcapil merilis Data Kependudukan Bersih (DKB) Semester II Tahun 2025 dalam acara bertema “Potret Keragaman Indonesia Dalam Satu Data Kependudukan Nasional”.
Acara berlangsung secara hybrid, diikuti sekitar 200 peserta luring di Birawa Assembly Hall, Hotel Bidakara, Jakarta, pada Kamis (12/3/2026). Sementara lebih dari 1.000 peserta yang terdiri jajaran Dinas Dukcapil provinsi dan kabupaten/kota selain Jabodetabek, mengikuti perhelatan penting ini secara daring melalui Zoom Meeting dan siaran langsung di kanal resmi @DukcapilKemendagri.
Pada salah satu bagian rilis DKB, Dirjen Dukcapil Teguh Setyabudi menyajikan data tentang keragaman agama penduduk Indonesia.
Data menunjukkan mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam dengan jumlah 251.257.898 jiwa (87,15%). Disusul Kristen 21.240.765 jiwa (7,37%), Katolik 8.861.999 jiwa (3,07%), Hindu 4.781.776 jiwa (1,66%), Buddha 1.994.756 jiwa (0,69%), Kepercayaan 99.556 jiwa, dan Khonghucu 78.339 jiwa.
Menurut Dirjen Teguh Setyabudi, Indonesia memang memiliki ratusan suku bangsa dari Aceh hingga Papua, masing-masing dengan budaya, bahasa, dan tradisi unik. “Namun, Sistem Satu Data Kependudukan Nasional berfungsi menyatukan informasi dari seluruh warga negara, sehingga keragaman wajah Indonesia tidak tercerai-berai, melainkan terintegrasi dalam satu basis data,” kata Dirjen Teguh, di Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Dirjen Dukcapil menyatakan, data kependudukan yang akurat menjadi dasar kebijakan publik yang inklusif, memastikan semua kelompok masyarakat terwakili. “Potret keragaman bangsa Indonesia ini bukan sekadar statistik, tetapi juga pengakuan resmi atas eksistensi dan kontribusi setiap komunitas dalam pembangunan nasional,” tandas Dirjen Teguh.
Teguh menjelaskan, mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, sementara komposisi penduduk usia produktif (15–64 tahun) yang besar mencapai 199.026.595 jiwa atau 69,03% dari total populasi. Kelompok usia terbesar berada pada rentang 40–44 tahun dengan 14.866.704 jiwa. “Ini merupakan peluang bonus demografi yang harus dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat.”
Dominasi usia produktif membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat daya saing ekonomi. “Namun, peluang ini hanya akan nyata bila kita mampu mengintegrasikan data kependudukan dengan kebijakan pembangunan lintas sektor” katanya.
Pada bagian lain, Dirjen Teguh menguraikan status perkawinan penduduk, yakni tercatat 137.007.707 jiwa penduduk berstatus kawin atau menikah. Sementara yang belum kawin tercatat sebanyak 131.713.077 jiwa, cerai hidup 5.591.324 jiwa, dan cerai mati 14.002.981 jiwa.
Data ini dapat menunjukkan keluarga sebagai unit sosial utama mendominasi di Indonesia.
“Tingginya angka perkawinan mencerminkan norma budaya dan agama yang menempatkan keluarga sebagai pusat kehidupan masyarakat, sekaligus secara filosofis keluarga adalah pilar demografi yang menjaga kesinambungan populasi dan stabilitas sosial,” ulas Teguh.
Makna Strategis Data Kependudukan
Di mata Dirjen Dukcapil, data kependudukan ibarat sebuah peta besar yang menggambarkan wajah bangsa. “Dari peta ini, kita bisa membaca arah perjalanan Indonesia, sekaligus menyiapkan bekal untuk masa depan,” ujarnya.
Secara demografi, data kependudukan Indonesia sebagai sebuah taman luas dengan beragam bunga. “Data kependudukan memastikan setiap bunga tercatat, sehingga kita tahu betapa kaya dan beragamnya taman ini. Satu data nasional yang akurat adalah kunci untuk merawat keragaman itu agar tetap indah dan terjaga,” kata Dirjen Teguh berfilosofi.
Selain itu, data kependudukan tak ubahnya bagai tulang punggung pada tubuh manusia. Tanpa tulang punggung, tubuh tidak bisa tegak. Begitu pula layanan publik: dengan perekaman KTP-el yang hampir paripurna, data kependudukan menjadi penopang yang membuat seluruh layanan lintas sektor bisa berdiri kokoh dan berjalan selaras.
Teguh menambahkan, dominasi usia produktif adalah bak gelombang besar energi yang datang sekali dalam sejarah bangsa. Jika kita pandai berselancar di atas gelombang ini, Indonesia akan melaju cepat menuju kesejahteraan dan daya saing ekonomi. Namun jika kita lengah, energi itu bisa hilang begitu saja.
Menutup uraiannya, Dirjen Dukcapil Teguh Setyabudi mengingatkan bahwa data kependudukan bukan sekadar angka yang dinamis. “Ia adalah cermin keragaman bangsa sekaligus fondasi kebijakan publik yang inklusif. Dengan satu data kependudukan nasional, kita membangun Indonesia yang lebih terintegrasi, produktif, dan sejahtera.”