JAKARTA – Tanggal 23 November menyimpan sejumlah peristiwa penting yang mengubah peta politik, keamanan penerbangan, dan sejarah dunia. Berikut rangkuman peristiwa bersejarah yang terjadi pada hari ini di masa lalu:
1890: Belanda Kehilangan Raja, Tahta Diserahkan ke Anak Berusia 10 Tahun
Raja Willem III dari Belanda meninggal dunia pada 23 November 1890 tanpa pewaris laki-laki. Untuk mencegah krisis suksesi, parlemen segera mengesahkan undang-undang khusus sehingga Putri Wilhelmina yang baru berusia 10 tahun naik tahta sebagai Ratu Belanda dan Adipati Agung Luksemburg. Wilhelmina akhirnya memerintah selama 58 tahun hingga 1948, menjadi salah satu ratu terlama dalam sejarah Eropa.
1985: Tragedi Pembajakan EgyptAir 648, 60 Penumpang Tewas di Malta
Pesawat EgyptAir Penerbangan 648 rute Athena–Kairo dibajak kelompok militan Palestina pimpinan Abu Nidal hanya beberapa menit setelah lepas landas dari Athena, Yunani, pada 23 November 1985. Pesawat dipaksa mendarat darurat di Bandara Luqa, Malta. Dalam proses penyanderaan dan serangan pasukan komando Mesir, total 60 orang tewas. Sejumlah sandera wanita asal Filipina dan Mesir serta dua pramugari yang terluka berhasil dibebaskan sebelum situasi berakhir tragis.
1996: Ethiopian Airlines 961 Jatuh di Samudra Hindia, 123 Korban Jiwa
Pada 23 November 1996, tiga pembajak membajak Boeing 767 Ethiopian Airlines Penerbangan 961 yang sedang menempuh rute Addis Ababa–Abidjan dengan singgahan di beberapa kota Afrika. Mereka memaksa pilot terbang ke Australia meski bahan bakar jelas tidak mencukupi.
Setelah menolak saran ATC untuk mendarat di Mombasa, Kenya, pesawat kehabisan bahan bakar dan jatuh di perairan dekat Moroni, Kepulauan Komoro, Samudra Hindia. Dari 175 penumpang dan awak, 123 orang tewas. Kapten Leul Abate mendapat pujian internasional karena berhasil melakukan pendaratan darurat di air sehingga menyelamatkan 52 nyawa. Ketiga pembajak diyakini tewas dalam insiden tersebut.
2003: Revolusi Mawar Paksa Presiden Georgia Eduard Shevardnadze Mundur
Eduard Shevardnadze, mantan Menteri Luar Negeri Uni Soviet yang kemudian menjadi Presiden Georgia sejak 1995, mengumumkan pengunduran dirinya pada 23 November 2003. Mundurnya Shevardnadze dipicu gelombang demonstrasi besar-besaran yang dikenal sebagai Revolusi Mawar, akibat tuduhan kecurangan pemilu legislatif. Pengunduran diri ini menandai berakhirnya era Shevardnadze dan membuka jalan bagi pemerintahan baru di bawah Mikheil Saakashvili.
Keempat peristiwa tersebut hingga kini masih dikenang sebagai titik balik penting dalam sejarah politik dan keamanan global.
