JAKARTA — Pemerintah menyiapkan strategi jangka panjang untuk mencetak talenta Indonesia yang mampu bersaing dan mengambil peran penting di pasar global.
Kebijakan tersebut diarahkan untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan, riset, inovasi, teknologi, dan ekonomi kreatif.
Arah pembangunan talenta itu mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 37 Tahun 2026 tentang Rencana Induk Ekonomi Kreatif Tahun 2026–2045.
Direktur Strategi & Sistem Pembelajaran Transformatif Kemdiktisaintek, Ardi Findyartini, menilai kekuatan Indonesia tidak hanya bertumpu pada sumber daya alam.
Menurut Ardi, manusia, kreativitas, ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi menjadi modal penting untuk menentukan daya saing Indonesia di masa depan.
“Melalui semangat Diktisaintek Berdampak, pendidikan tinggi tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi menjadi ruang untuk mengembangkan talenta, menghasilkan riset, melahirkan inovasi, mengembangkan teknologi, serta mendorong hilirisasi hasil penelitian menjadi solusi dan nilai tambah bagi masyarakat,” ujar Ardi dalam keterangannya.
Perguruan tinggi diposisikan sebagai pusat pengembangan peneliti, inovator, wirausahawan, serta talenta kreatif yang akan menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Karena itu, pembangunan ekonomi kreatif dinilai tidak dapat dipisahkan dari upaya membentuk manusia yang memiliki kompetensi dan kemampuan menghasilkan karya bernilai.
Sekolah Garuda Perkuat Talenta Sejak Dini
Pengembangan talenta juga dimulai sejak jenjang pendidikan menengah melalui program SMA Unggul Garuda.
Program tersebut membuka akses pendidikan berkualitas bagi siswa bertalenta agar mereka memiliki bekal kuat untuk melanjutkan pendidikan dan berkontribusi bagi Indonesia.
Talenta yang dibangun sejak dini diharapkan mampu berkembang menjadi peneliti, inovator, pelaku usaha, dan kreator yang menghasilkan solusi bagi berbagai kebutuhan masyarakat.
Ardi menyebut kolaborasi antara pendidikan, riset, kreativitas, dan inovasi menjadi fondasi untuk menghasilkan karya yang tidak hanya bermanfaat di dalam negeri.
“Dari talenta lahirlah gagasan, dari pendidikan tumbuhlah kompetensi, dari riset lahirlah inovasi, dari kreativitas terciptalah karya, dan dari karya itulah hadir dampak,” tambah Ardi.
Indonesia Tak Cukup Menjadi Pasar
Kemdiktisaintek melalui semangat Diktisaintek Berdampak berupaya mempertemukan pendidikan, sains, teknologi, riset, inovasi, dan talenta dalam satu ekosistem yang menghasilkan manfaat nyata.
Ekosistem tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan Indonesia menciptakan produk, teknologi, gagasan, dan karya yang mampu bersaing secara internasional.
Pemerintah juga mendorong perubahan cara pandang agar Indonesia tidak terus berada pada posisi sebagai konsumen produk dari negara lain.
“Indonesia tidak cukup hanya menjadi pasar. Indonesia harus menjadi bangsa yang menciptakan, berinovasi, dan menjadi pemain utama di pasar dunia,” pungkas Ardi.
Dampak Strategis
Penguatan Sekolah Garuda dan ekosistem pendidikan menjadi bagian dari strategi menyiapkan generasi yang mampu menghadapi persaingan ekonomi global.
Kombinasi pendidikan berkualitas, riset, teknologi, kreativitas, dan hilirisasi diharapkan melahirkan talenta yang mampu menciptakan nilai ekonomi baru.
Dengan strategi tersebut, talenta muda Indonesia diarahkan bukan hanya untuk mencari peluang di pasar global, tetapi juga menciptakan peluang dan menjadi penggerak perubahan.***





