MOSKOW, RUSIA – Aliansi militer antara Rusia dan Iran memasuki babak baru yang lebih mengkhawatirkan. Jika sebelumnya Moskow hanya dituding membagikan data intelijen, kini Rusia dilaporkan telah memberikan “saran khusus” terkait taktik drone kepada Teheran untuk digunakan dalam serangan terhadap Amerika Serikat (AS) dan Israel .
Laporan yang diungkap dengan mengutip seorang pejabat intelijen Barat ini menandai eskalasi signifikan dalam dukungan Kremlin. Bantuan teknis ini dinilai lebih canggih dibandingkan sekadar berbagi informasi lokasi musuh, yang sebelumnya dilaporkan oleh The Washington Post .
Dari Intelijen Menuju Taktik Tempur
Seorang pejabat intelijen Barat yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa pola dukungan Rusia telah bergeser. “Dukungan yang sebelumnya lebih umum kini menjadi lebih mengkhawatirkan, termasuk strategi penargetan (drone) yang digunakan Rusia di Ukraina,” ujarnya.
Meski demikian, pejabat tersebut menolak merinci sejauh mana bantuan taktis yang telah diberikan militer Rusia kepada Korps Garda Revolusi Islam Iran.
Kekhawatiran ini diamini oleh Menteri Pertahanan Inggris, John Healey. Ia mencurigai adanya “tangan tersembunyi” Presiden Vladimir Putin di balik taktik serangan drone Iran. Pemerintah Inggris saat ini sedang menganalisis puing-puing drone yang menyerang pangkalan RAF Akrotiri di Siprus untuk mencari bukti komponen atau modifikasi ala Rusia .
Putaran Baru Perang Proksi
Rusia sendiri selama ini telah menjadi pengguna berat drone serang satu arah buatan Iran, seperti Shahed, sejak invasi skala penuh ke Ukraina. Moskow kerap meluncurkan drone murah tersebut dalam gelombang besar untuk membanjiri pertahanan udara Ukraina. Kini, pengalaman tempur Rusia di Eropa tersebut tampaknya dibagikan kepada Iran untuk digunakan melawan armada dan pangkalan AS di kawasan Teluk .
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy juga angkat bicara mengenai manuver militer kedua negara tersebut. “Rusia mulai mendukung rezim Iran dengan drone,” klaim Zelenskyy, seraya menambahkan bahwa Moskow dipastikan akan segera membantu Iran dengan rudal dan sistem pertahanan udara .
Menariknya, di tengah aliran senjata dari Rusia ke Iran, Ukraina justru mengambil posisi sebaliknya. Kyiv disebut telah mengirim spesialis pertahanan udara ke negara-negara Teluk untuk membantu menangkis serangan drone Iran. Pengalaman personel militer Ukraina selama lebih dari empat tahun menghadapi drone Shahed di medan perang Eropa menjadi komoditas berharga bagi negara-negara Teluk yang kini merasa terancam .
Bantahan dan Sikap AS
Diplomasi publik juga mewarnai situasi ini. Utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, menyatakan kepada CNBC bahwa para pejabat Kremlin telah meyakinkannya jika Moskow tidak memberikan informasi target kepada militer Iran. Witkoff mengaku percaya bahwa AS “dapat mempercayai pernyataan Rusia” tersebut .
Pernyataan ini kontras dengan temuan intelijen yang beredar. Sejak pasukan Amerika dan Israel memulai serangan udara terhadap Republik Islam pada 28 Februari, beberapa sumber menyebut Rusia telah berbagi intelijen sensitif, termasuk lokasi kapal perang dan pesawat AS di Timur Tengah .
Hingga saat ini, Kremlin masih bungkam dan belum memberikan tanggapan resmi atas laporan terbaru dari CNN tersebut. Sementara itu, ketegangan di Timur Tengah terus berlanjut dengan intensitas serangan drone yang diklaim oleh para analis mulai menunjukkan pola dan presisi ala medan perang Ukraina .