Di era digital saat ini, banyak orang yang selalu terlihat “online” di media sosial seperti Instagram, Facebook, Tiktok atau X (Twitter), tapi jarang atau bahkan tidak pernah memposting apa pun. Mereka lebih suka scrolling, membaca, atau mengamati konten orang lain tanpa ikut berpartisipasi aktif.
Fenomena ini dikenal sebagai “lurking” atau pengintipan diam-diam. Menurut psikologi, perilaku ini bukan berarti antisosial, melainkan mencerminkan kepribadian yang unik dan sering kali positif.
Berikut adalah beberapa karakteristik utama yang sering dimiliki oleh orang-orang seperti ini, berdasarkan pandangan psikologi dan pengamatan umum:
1. Menghargai Privasi Tinggi
Mereka sangat menjaga batasan pribadi dan tidak ingin semua aspek kehidupan dipublikasikan. Bagi mereka, media sosial bukan tempat untuk pamer, melainkan untuk mengamati saja. Ini membuat mereka terhindar dari risiko seperti cyberbullying atau penilaian negatif dari orang lain.
2. Mandiri dan Tidak Butuh Validasi Eksternal
Orang ini biasanya punya rasa percaya diri yang kuat dari dalam diri sendiri, bukan dari like, komentar, atau share. Mereka tidak merasa perlu membuktikan kebahagiaan atau kesuksesan melalui postingan, karena validasi datang dari pencapaian pribadi atau hubungan nyata.
3. Introvert atau Pengamat yang Baik
Sebagian besar adalah tipe introvert yang lebih suka mengobservasi daripada berpartisipasi. Mereka menikmati membaca opini orang lain, belajar dari konten, tapi jarang berkomentar karena lebih nyaman diam. Ini membuat mereka jadi pendengar atau pembaca yang empati tinggi.
4. Lebih Menikmati Interaksi di Dunia Nyata
Mereka menghargai hubungan autentik tatap muka daripada interaksi virtual yang superficial. Media sosial hanya untuk update berita atau hiburan, bukan untuk membangun koneksi. Akibatnya, pertemanan mereka sering lebih dalam dan bermakna.
5. Reflektif dan Introspektif
Dengan tidak sibuk posting, mereka punya waktu lebih banyak untuk merenungkan hidup. Ini membantu mereka punya perspektif seimbang, kurang rentan terhadap perbandingan sosial (social comparison), dan lebih fokus pada pengembangan diri.
6. Sensitif terhadap Kebisingan Emosional
Media sosial sering penuh drama, opini keras, atau tekanan. Orang ini peka terhadap “noise” tersebut, sehingga memilih lurking untuk menghindari kecemasan atau fatigue. Mereka tetap online untuk informasi, tapi tanpa ikut terlibat yang bisa menguras energi.
7. Keaslian dan Minimalis
Mereka menjunjung orisinalitas dan tidak suka menciptakan persona online yang sempurna. Gaya hidup minimalis ini membuat mereka lebih bahagia, karena tidak terjebak dalam perlombaan like atau tren sementara.
Perilaku lurking ini sebenarnya sangat umum—penelitian menunjukkan hingga 90% pengguna media sosial lebih banyak mengonsumsi daripada memproduksi konten. Bukan berarti mereka kurang sosial, justru sering kali mereka lebih grounded dan sehat mentalnya.
