JAKARTA – Lalu lintas di Selat Hormuz tetap jauh di bawah normal meski gencatan senjata di Timur Tengah telah berlaku. Data pelacakan maritim menunjukkan hanya 10 kapal yang melintas sejak 8 April, ketika Iran dan Amerika Serikat sepakat membuka kembali jalur sepanjang 167 kilometer itu.
Pada 9 April, Presiden AS Donald Trump menuduh Iran melakukan “pekerjaan yang sangat buruk” dalam mengizinkan minyak melewati Selat Hormuz. Ia menegaskan, “Itu bukan kesepakatan yang kita miliki!” melalui unggahan di platform Truth Social. Trump juga memperingatkan Iran agar tidak mengenakan bea masuk bagi kapal yang melintas.
Dilansir dari Hurriyet Daily News, Jumat (10/4/2020226), situasi di selat strategis tersebut masih dibayangi ketegangan. Serangan Israel ke Lebanon dan pernyataan Garda Revolusi Iran (IRGC) menambah keraguan atas efektivitas gencatan senjata. Padahal, dalam kondisi normal, jalur ini menangani sekitar 20 persen perdagangan minyak mentah dan gas alam cair dunia.
Menurut Kpler, hanya empat kapal tanker dan enam kapal pengangkut barang curah yang melintas sejak gencatan senjata dimulai. Salah satunya adalah kapal berbendera Gabon bernama “MSG” yang membawa 7.000 ton bahan bakar minyak dari Uni Emirat Arab menuju India.
Lloyd’s List mencatat lalu lintas pekan terakhir turun 90 persen dari tingkat normal, hampir seluruhnya didorong oleh perdagangan Iran. IRGC bahkan menetapkan rute alternatif dekat Pulau Larak dan mewajibkan kapal bekerja sama dengan angkatan laut Iran. Rumor beredar bahwa biaya transit bisa mencapai satu dolar per barel minyak, dibayar dengan mata uang kripto.
Sekitar 800 kapal masih terjebak di Teluk sejak perang pecah pada 28 Februari. International Maritime Organization (IMO) melaporkan 30 kapal komersial telah menjadi sasaran serangan sejak awal Maret, meski tidak ada insiden baru setelah gencatan senjata berlaku.