Di tengah dentuman serangan udara yang menggema di sekitar Caracas, pasukan Amerika Serikat mulai merangsek masuk ke ibu kota Venezuela. Operasi ini melibatkan anggota Delta Force, unit misi khusus paling elite milik militer AS, sebagaimana diungkapkan sumber kepada mitra BBC di AS, CBS.
Pasukan tersebut bersenjata lengkap dan bahkan membawa alat las (blowtorch)—antisipasi jika mereka harus memotong pintu baja rumah aman milik Presiden Venezuela Nicolás Maduro.
Menurut Ketua Kepala Staf Gabungan AS Dan Caine, pasukan tiba di lokasi Maduro beberapa menit setelah serangan dimulai, tepatnya pukul 02.01 waktu setempat. Presiden AS Donald Trump menggambarkan rumah aman itu sebagai “benteng militer” di jantung Caracas.
“Mereka sudah bersiaga menunggu kami. Mereka tahu kami akan datang,” ujar Trump.
Kontak Tembak dan Terobosan Paksa
Setibanya di lokasi, pasukan AS langsung mendapat tembakan balasan. Salah satu helikopter AS sempat terkena tembakan, namun masih mampu terbang dan melanjutkan misi.
“Pasukan penangkap masuk ke kompleks Maduro dengan kecepatan, presisi, dan disiplin tinggi,” kata Jenderal Caine.
Trump menambahkan bahwa pasukan AS berhasil menembus area-area yang dirancang nyaris tak bisa ditembus, termasuk pintu-pintu baja yang dipasang khusus untuk menahan serangan.
“Mereka mendobrak masuk—bahkan ke tempat-tempat yang seharusnya tidak bisa dibobol. Pintu baja yang memang dipasang untuk situasi seperti ini,” ujar Trump.
Operasi ini juga berujung pada penangkapan istri Maduro, Cilia Flores, yang berada di lokasi saat penggerebekan berlangsung.
Kontroversi di Washington
Baru ketika operasi sedang berjalan, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mulai memberi tahu para anggota parlemen AS. Langkah ini memicu kemarahan sejumlah anggota Kongres.
Pemimpin mayoritas Demokrat di Senat, Chuck Schumer, mengecam keras keputusan tersebut.
“Tidak ada keraguan bahwa Nicolás Maduro adalah diktator yang tidak sah. Namun melancarkan aksi militer tanpa otorisasi Kongres dan tanpa rencana jelas pascaoperasi adalah tindakan sembrono,” katanya.
Rubio membela keputusan itu dengan menyatakan bahwa memberi pengarahan lebih awal justru bisa membahayakan misi. Trump bahkan menimpali, “Kongres punya kecenderungan bocor. Itu tidak akan bagus.”
Maduro Gagal Melarikan Diri
Di dalam kompleks tersebut, ketika pasukan elite AS membanjiri area, Trump mengatakan Maduro—yang belakangan disebut meningkatkan ketergantungan pada pengawal asal Kuba—berusaha melarikan diri ke ruang aman.
“Ia mencoba menuju tempat aman, yang sebenarnya tidak aman, karena pintunya akan kami ledakkan dalam sekitar 47 detik,” ujar Trump.
“Ia sempat mencapai pintu, tapi tidak berhasil menutupnya. Pasukan kami masuk terlalu cepat.”
Ketika ditanya apakah Maduro bisa saja tewas jika melawan penangkapan, Trump menjawab singkat, “Itu bisa saja terjadi.”
Dievakuasi ke AS
Di pihak AS, Trump mengakui beberapa personel terluka, namun memastikan tidak ada korban jiwa. Otoritas Venezuela hingga kini belum mengonfirmasi jumlah korban di pihak mereka.
Sebelumnya, AS sempat menawarkan hadiah US$50 juta untuk informasi yang mengarah pada penangkapan Maduro. Namun pada pukul 04.20 waktu setempat, helikopter AS telah meninggalkan wilayah Venezuela, membawa Maduro dan istrinya dalam tahanan Departemen Kehakiman AS.
Keduanya kemudian diterbangkan menuju New York, untuk menghadapi dakwaan pidana. Hampir tepat satu jam kemudian, Trump mengumumkan penangkapan tersebut ke dunia.
“Maduro dan istrinya akan segera menghadapi seluruh kekuatan hukum Amerika Serikat,” tegas Trump.