JAKARTA — Laporan terbaru mengenai keamanan digital menunjukkan lonjakan signifikan jumlah serangan dan insiden digital di Indonesia sepanjang 2025. Data yang dirilis oleh Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet) mencatat total 907 kasus serangan dan insiden keamanan digital selama periode tersebut. Angka ini meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan tahun 2024 yang hanya mencatat 330 kasus.
Temuan ini mengindikasikan memburuknya situasi keamanan digital di Indonesia, seiring meningkatnya penggunaan platform digital sebagai ruang berekspresi, berkomunikasi, dan menyampaikan kritik. SAFEnet menilai lonjakan kasus tersebut bukan terjadi secara sporadis, melainkan telah terdeteksi sejak awal tahun dan terus berulang dalam periode pelaporan.
“Lonjakan ini sudah terlihat sejak awal tahun dan berulang sepanjang periode pelaporan,” kata SAFEnet dalam laporannya, dilansir dari Databoks.
Berdasarkan pemantauan SAFEnet, bentuk serangan digital yang dialami korban sangat beragam. Insiden tersebut meliputi pengancaman, peretasan akun, doxing atau penyebaran data pribadi, penangguhan akun secara sepihak, pemerasan, penyedotan data, hingga serangan ransomware. Ragam modus ini menunjukkan bahwa ancaman digital tidak hanya berdampak pada kebebasan berekspresi, tetapi juga berimplikasi langsung pada keamanan personal dan psikologis korban.
SAFEnet menekankan bahwa serangan digital tidak hanya terjadi di ruang publik, tetapi juga menyasar ruang komunikasi privat. Hal ini memperlihatkan pergeseran pola serangan yang semakin personal dan intim, sehingga dampaknya kian luas dan mendalam.
“Platform X kerap menjadi titik awal penyampaian kritik, Instagram menjadi medium serangan berbasis identitas, sementara WhatsApp digunakan untuk intimidasi langsung yang berdampak psikologis,” kata SAFEnet.
Dalam konteks politik dan kebijakan publik, SAFEnet mencatat adanya perluasan target serangan digital. Jika sebelumnya serangan lebih banyak menyasar aktivis hak asasi manusia, organisasi masyarakat sipil, dan jurnalis, kini warga biasa hingga aparatur sipil negara juga turut menjadi korban. Kritik terhadap kebijakan publik dinilai semakin sering dipersepsikan sebagai ancaman terhadap stabilitas.
“Kritik terhadap kebijakan kian diperlakukan sebagai ancaman stabilitas, sehingga unggahan yang merefleksikan keresahan publik sering menjadi sasaran serangan, bahkan berdampak hingga pada keluarga korban,” kata SAFEnet.
Ranking Jumlah Insiden dan Serangan Digital di Indonesia Berdasarkan Platform (2025)
1. Instagram — 278 insiden
2. WhatsApp — 230 insiden
3. X — 71 insiden
4. Facebook — 56 insiden
5. Situs web — 55 insiden
6. TikTok — 50 insiden