JAKARTA – Serangan militer terbaru oleh Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran berdampak langsung pada perekonomian di Türkiye bagian timur, khususnya di provinsi Van. Wilayah yang berbatasan sepanjang 300 kilometer dengan Iran itu selama bertahun-tahun menjadi “katup pengaman” bagi kelas menengah Iran yang mencari kebebasan sosial, akses kesehatan modern, dan gaya hidup ala Barat.
Van, yang hanya berjarak empat jam perjalanan dari Tabriz, kini mengalami kelumpuhan aktivitas lintas batas. Arus wisatawan harian terhenti meski gerbang bea cukai tetap terbuka untuk kargo komersial dan warga yang kembali ke rumah. Kondisi ini mengancam pendapatan pariwisata lokal yang sebelumnya mencapai lebih dari 80 juta dolar per tahun.
“Van sudah tidak sama seperti minggu lalu,” tulis jurnalis Yavuz Donat, dilansir dari turkiyetoday.com, menggambarkan suasana muram di jalan-jalan utama kota seperti Cumhuriyet, Iskele, dan Kazim Karabekir.
Dampak langsung terhadap perekonomian Van terlihat jelas:
- Semua tur terorganisir dari Iran, Georgia, dan Azerbaijan dibatalkan.
- Hotel-hotel yang biasanya penuh tamu dari Teheran, Tabriz, dan Urmia kini kosong akibat pembatalan besar-besaran.
- Aktivitas “perdagangan koper” warga Iran yang membeli tekstil dan barang rumah tangga lenyap.
- Reservasi liburan Nowruz dan Ramadan yang sudah dilakukan warga Iran dibatalkan.
Menteri Perdagangan Turki, Omer Bolat, menegaskan tidak ada “situasi luar biasa” di gerbang perbatasan Gurbulak, Kapikoy, dan Esendere. Namun, ia menyebutkan adanya pembatasan khusus. “Penyeberangan penumpang untuk perjalanan sehari telah dihentikan secara serentak di ketiga gerbang bea cukai,” kata Bolat.
Meski demikian, transportasi kargo komersial tetap berjalan dalam kondisi terkendali agar perdagangan tidak berhenti sepenuhnya.