Serangan udara Israel kembali menewaskan sedikitnya empat orang di wilayah Lebanon selatan sepanjang akhir pekan, menambah daftar kekerasan yang terus berlanjut meski perjanjian gencatan senjata telah berlaku sejak November 2024. Total korban jiwa akibat rangkaian serangan sejak kesepakatan tersebut diteken kini dilaporkan telah melampaui 340 orang.
Kementerian Kesehatan Lebanon mengonfirmasi bahwa pada Minggu, pesawat tempur Israel menyerang sebuah mobil dan sepeda motor di Kota Yater. Insiden tersebut menewaskan satu orang dan melukai dua lainnya. Sehari berselang, tiga orang dilaporkan tewas setelah sebuah drone Israel menghantam kendaraan di dekat Kota Sidon, wilayah pesisir selatan Lebanon.
Pihak Pasukan Pertahanan Israel menyatakan serangan tersebut menargetkan anggota Hizbullah, yang dituding tengah memulihkan infrastruktur kelompok militan itu. Klaim tersebut muncul di tengah sorotan internasional terhadap meningkatnya eskalasi pascagencatan senjata.
Gencatan Senjata di Ujung Tanduk
Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) mencatat lebih dari 10.000 pelanggaran gencatan senjata oleh Israel sejak perjanjian mulai berlaku pada 27 November 2024. Pelanggaran itu mencakup lebih dari 8.100 pelanggaran wilayah udara serta sekitar 2.600 aksi lintas batas darat di utara Garis Biru.
Dalam kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat dan Prancis, Israel diwajibkan menarik seluruh pasukannya dari Lebanon selatan dalam waktu 60 hari. Namun hingga kini, Israel masih mempertahankan pasukan di lima titik strategis di selatan Sungai Litani. Posisi tersebut memberikan keunggulan pengawasan terhadap desa-desa perbatasan Lebanon seperti Kfar Kila, Aita al-Shaab, dan Maroun al-Ras.
Tekanan Pelucutan Senjata Meningkat
Di sisi lain, Lebanon menghadapi tekanan internasional yang semakin besar untuk melucuti senjata Hizbullah sebelum tenggat 31 Desember, sebagaimana ditetapkan pemerintahan Amerika Serikat. Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, menyatakan pemerintah hampir merampungkan fase awal pelucutan senjata di wilayah selatan Sungai Litani.
Sementara itu, Senator AS Lindsey Graham, yang berkunjung ke Israel pada Minggu, menuding Hizbullah berupaya membangun kembali kekuatan militernya. Pernyataan tersebut disampaikan melalui kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang menegaskan langkah tersebut dianggap tidak dapat diterima.
Meski perwakilan sipil Lebanon dan Israel telah menggelar pertemuan langsung kedua mereka bulan ini di bawah komite pemantauan gencatan senjata, serangan udara Israel kembali terjadi kurang dari 24 jam setelah perundingan tersebut, mempertegas rapuhnya kesepakatan damai yang ada.
