GAZA, PALESTINA– Serangan udara Israel kembali mengguncang Jalur Gaza, kali ini menyasar wilayah dekat pusat medis di Deir al-Balah, Gaza Tengah, pada Kamis (10/7/2025). Tragedi ini menewaskan sedikitnya 15 warga Palestina, termasuk 10 anak-anak yang sedang mengantre untuk mendapatkan bantuan medis. Insiden ini memicu kecaman keras dari komunitas internasional, di tengah perundingan gencatan senjata yang masih buntu.
Menurut laporan Reuters, serangan tersebut terjadi saat warga sipil, termasuk anak-anak, sedang berkumpul di sekitar klinik untuk mendapatkan perawatan dan suplemen gizi.
“Mimpinya adalah agar perang berakhir dan mereka mengumumkannya hari ini, untuk kembali bersekolah,” kata Samah al-Nouri, seorang ibu yang berduka, duduk di samping jasad putrinya yang tewas dalam ledakan tersebut. “Dia hanya dirawat di fasilitas medis. Mengapa mereka membunuh mereka?” tambahnya dengan nada penuh kepedihan, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (11/7/2025).
Korban dan Kondisi di Lapangan
Rumah Sakit Martir al-Aqsa di Deir al-Balah melaporkan bahwa dari 15 korban tewas, delapan di antaranya adalah anak-anak dan dua lainnya perempuan. Video yang diverifikasi BBC menunjukkan pemandangan mengerikan pasca-serangan, dengan jenazah anak-anak dan warga sipil tergeletak di jalanan, beberapa di antaranya terluka parah. Petugas medis berjuang menangani korban di tengah kepanikan dan tangisan keluarga yang kehilangan orang tersayang.
Kelompok bantuan kemanusiaan Project Hope, yang mengelola klinik tersebut, menyebut serangan ini sebagai “pelanggaran nyata hukum internasional”. Sementara itu, militer Israel mengklaim bahwa serangan tersebut menargetkan seorang anggota Hamas, namun menyatakan penyesalan atas korban sipil yang jatuh.
Konteks Konflik yang Memburuk
Tragedi ini terjadi di tengah eskalasi kekerasan di Gaza, yang telah menewaskan lebih dari 57.000 warga Palestina sejak Oktober 2023, menurut data Biro Pusat Statistik Palestina. Sekitar 18.000 di antaranya adalah anak-anak dan 12.000 perempuan, mencerminkan dampak dahsyat konflik terhadap warga sipil.
Perundingan gencatan senjata di Qatar masih berlangsung, namun belum membuahkan hasil signifikan. Salah satu isu utama adalah penolakan Israel terhadap gencatan senjata permanen, yang memperumit upaya meredakan konflik. Hamas, di sisi lain, telah menyatakan kesiapan untuk membebaskan 10 sandera Israel sebagai bagian dari kesepakatan, namun menuntut jaminan aliran bantuan kemanusiaan dan penarikan pasukan Israel dari Gaza.
Kecaman Dunia dan Krisis Kemanusiaan
UNICEF, melalui Kepala Eksekutif Catherine Russell, mengecam keras pembunuhan warga sipil yang sedang mencari bantuan.
“Kami sangat terkejut dengan laporan pembunuhan 15 warga Palestina, termasuk sembilan anak-anak dan empat perempuan, yang sedang mengantre untuk mendapatkan pasokan gizi bagi anak-anak di Deir al Balah, Jalur Gaza,” ujar Russell, seperti dilansir Anadolu. Ia menyebut tindakan ini sebagai “tidakan yang tidak bermoral” dan menyerukan perlindungan bagi warga sipil.
Krisis kemanusiaan di Gaza semakin memburuk, dengan laporan tentang kelaparan yang meluas akibat pembatasan bantuan.
“Kurangnya bantuan berarti anak-anak menghadapi kelaparan sementara risiko kelaparan meningkat,” kata seorang pejabat kemanusiaan, seperti dikutip Al Jazeera.
Seruan untuk Aksi Global
Insiden ini kembali menyoroti urgensi penyelesaian konflik yang telah berlangsung selama hampir dua tahun. Banyak pihak mendesak komunitas internasional untuk meningkatkan tekanan terhadap semua pihak yang terlibat demi mencapai gencatan senjata permanen dan memastikan bantuan kemanusiaan sampai ke warga Gaza tanpa hambatan.
Dengan meningkatnya jumlah korban sipil, dunia kini menanti langkah konkret untuk mengakhiri kekerasan dan membawa harapan bagi rakyat Gaza, khususnya anak-anak yang menjadi korban terbesar dalam konflik ini.
