JAKARTA – Lebih dari 520.000 orang memadati Jembatan Galata, Istanbul, Kamis (1/1/2026), dalam aksi unjuk rasa besar mendukung Palestina dan menuntut dihentikannya kekerasan di Jalur Gaza. Demonstrasi digelar di bawah koordinasi Aliansi Kemanusiaan dan Platform Kehendak Nasional, melibatkan lebih dari 400 organisasi masyarakat sipil, serta dipimpin Yayasan Pemuda Turkiye (TUGVA). Massa mengusung slogan, “Kami tidak akan gentar, tidak akan diam, dan tidak akan melupakan Palestina.”
Dilansir dari Anadolu, Senin (5/1/2026), sejak dini hari, warga berkumpul di sejumlah masjid besar seperti Hagia Sophia, Sultanahmet, Fatih, Süleymaniye, dan Yeni di Eminönü untuk melaksanakan salat Subuh berjemaah. Usai ibadah, mereka berjalan kaki menuju Jembatan Galata sambil membawa bendera Turki dan Palestina. Sebagian peserta datang melalui jalur laut, menyalakan suar dan mengibarkan bendera saat mendekati lokasi.
Meski suhu udara dingin, jumlah massa tetap besar. Aparat keamanan memperketat penjagaan di kawasan Sultanahmet, sementara panitia menyediakan minuman hangat. Sejumlah menteri kabinet, pejabat tinggi negara, dan tokoh masyarakat turut bergabung dalam long march. Acara resmi dimulai pukul 08.30 waktu setempat.
Di panggung utama, spanduk bergambar Hanzala — tokoh ikonik perjuangan Palestina karya kartunis Naji al-Ali — dipasang sebagai simbol perlawanan. Aksi juga diwarnai penampilan musisi internasional, termasuk Maher Zain, Esat Kabakli, dan Grup Yuruyus.
Wakil Presiden Türkiye, Cevdet Yilmaz menyampaikan pesan solidaritas melalui platform NSosyal, menegaskan dukungan bagi rakyat Palestina dan kelompok tertindas di dunia. Bilal Erdogan, Ketua Dewan Pembina Yayasan Ilim Yayma sekaligus penasihat TUGVA, menyebut aksi ini sebagai penanda dimulainya tahun baru dengan doa untuk Palestina, sekaligus mencerminkan meningkatnya partisipasi masyarakat setiap tahun.
Ketua TUGVA Ibrahim Besinci menegaskan besarnya jumlah peserta mencerminkan sikap moral kolektif terhadap kekerasan di Gaza. “Jembatan Galata telah berubah menjadi mimbar nurani bagi berbagai lapisan masyarakat,” ujarnya. Ia juga mengenang tiga polisi Turki yang gugur dalam operasi melawan ISIS di Yalova awal pekan ini.
Dukungan juga datang dari dunia olahraga. Klub-klub besar Türkiye seperti Besiktas, Galatasaray, Trabzonspor, dan Fenerbahce menyerukan partisipasi publik. Rangkaian acara ditutup dengan instalasi seni bertajuk “Roots” yang menggambarkan perlawanan budaya Palestina melalui simbol pohon zaitun yang tumbuh dari puing-puing, sebagai representasi keteguhan menghadapi upaya pembungkaman kebudayaan.