JAKARTA – Shutdown pemerintah AS memasuki hari ke-39, dengan Demokrat dan Republik bersitegang tanpa kompromi, sementara jutaan warga menderita dan ekonomi terus merugi
Pertemuan darurat di Washington akhir pekan ini gagal meredakan situasi. Pada Sabtu, 8 November 2025, fraksi Demokrat mengajukan tawaran baru dengan memangkas tuntutan mereka, yakni memperpanjang kredit pajak Affordable Care Act (ACA) atau Obamacare hanya untuk satu tahun sebagai imbalan pembukaan kembali operasional pemerintah.
Namun, proposal ini langsung ditolak Partai Republik dalam waktu setengah jam, dinilai kurang serius. Para senator dari kedua partai tetap bertahan di ibu kota AS meski hari libur, dengan rencana pemungutan suara hari ini, Minggu 9 November 2025, yang masih belum pasti.
Menurut laporan Bloomberg, Pemimpin Mayoritas Senat Partai Republik John Thune mengumumkan bahwa parlemen akan memilih resolusi sementara baru untuk mengalokasikan dana ke Kementerian Pertanian, Urusan Veteran, Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA), serta Kongres itu sendiri.
Jika disetujui, dana tersebut akan bertahan hingga 30 September 2026, sementara lembaga lain seperti Departemen Keuangan dan Kehakiman hanya didanai hingga 31 Januari mendatang. Sesi debat Sabtu malam membahas manfaat Obamacare tanpa hasil voting, dengan ketidakpastian apakah pemungutan suara hari Minggu akan digelar tergantung kesiapan draf undang-undang dan dukungan Demokrat.
Thune menekankan bahwa diskusi bipartisan belakangan ini menunjukkan kemajuan, tapi pihaknya tegas menolak memasukkan klausul Obamacare sebelum shutdown berakhir. Pada Jumat, 7 November 2025, ia menyatakan, “Mereka hanya perlu menerima jawaban ‘ya’. Kami telah menawarkan solusi kepada mereka.” Sementara itu, Senator Lindsey Graham dari Partai Republik menegaskan sikap kerasnya selama sesi Sabtu, dengan mengatakan, “Kami akan mengganti sistem yang rusak ini,” menolak perpanjangan program ACA bahkan untuk satu tahun saja.
Posisi Demokrat Menguat Pasca Kemenangan Pemilu Lokal
Fraksi Demokrat merasa semakin kuat setelah meraih kemenangan di sejumlah pemilu negara bagian awal pekan lalu, yang mereka anggap sebagai mandat publik untuk mempertahankan program sosial. Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer menyebut pendirian Republik sebagai “kesalahan besar,” dan menegaskan,
“Kami bersedia bernegosiasi setelah subsidi diperpanjang.” Senator Elizabeth Warren dari Massachusetts menambahkan, “Keluarga-keluarga di seluruh negeri ini memberi kami pada hari Selasa bahwa keterjangkauan adalah masalah besar bagi mereka, dan ingin kami terus menekan Partai Republik.”
Demokrat mendesak Presiden Donald Trump untuk turun tangan, tapi sang presiden justru menghabiskan akhir pekan di klub pribadinya Mar-a-Lago, Florida, sambil mengirim instruksi ke rekan-rekannya melalui media sosial. Secara historis, Republik pernah gagal puluhan kali merevisi atau menghapus Obamacare selama masa jabatan pertama Trump, karena ketidakmampuan menyatukan visi pengganti yang komprehensif.
Dampak Shutdown, Dari Kelaparan hingga Kekacauan Penerbangan
Shutdown ini telah menimbulkan penderitaan nyata bagi masyarakat AS. Sekitar 24 juta warga yang bergantung pada asuransi Obamacare kini menghadapi premi dua kali lipat dari tahun lalu, sementara jutaan lainnya kehilangan tunjangan bantuan pangan November akibat sengketa hukum. Ribuan pegawai federal tanpa gaji, dana darurat untuk pensiun dan upah militer terancam habis, serta terjadi penumpukan kasus pengembalian pajak, pinjaman usaha kecil, dan aplikasi federal.
Yang lebih mengkhawatirkan, Administrasi Penerbangan Federal (FAA) memerintahkan maskapai mengurangi penerbangan hingga 10% mulai 14 November 2025, berpotensi mencapai 20% jika krisis berlanjut. Menteri Transportasi Sean Duffy memperingatkan bahwa pengurangan ini bisa memicu kekacauan saat libur Thanksgiving. Rumah tangga berpenghasilan rendah dan menengah semakin tertekan karena penundaan Program Bantuan Nutrisi Tambahan (SNAP), sementara tahun depan biaya kesehatan bisa melonjak drastis akibat berakhirnya subsidi ACA.
Kerugian Ekonomi Mencapai Rp 250 Triliun per Minggu
Dari sisi ekonomi, shutdown diperkirakan merugikan AS hingga US$15 miliar atau setara Rp 250,27 triliun setiap minggunya, menurut Kantor Anggaran Kongres (CBO). Proyeksi CBO menyebut pertumbuhan PDB riil tahunan bisa turun 1,5 poin persentase per kuartal. Sentimen konsumen AS bahkan menyentuh titik terendah tiga tahun terakhir, dipicu kekhawatiran shutdown, inflasi harga, dan ketidakstabilan pasar kerja.
Survei KFF Health mengungkap 74% orang dewasa AS mendukung perpanjangan kredit pajak ACA sesuai keinginan Demokrat, dengan dukungan mencapai 94% di kalangan Demokrat dan 50% di Republik. Para analis memperingatkan bahwa tanpa resolusi cepat, krisis ini berisiko memperburuk polarisasi politik menjelang agenda legislatif 2026.
Hingga kini, tidak ada indikasi akhir dari kedua partai untuk mengalah. Pemerintah AS terus beroperasi secara minimal, tapi tekanan publik dan ekonomi semakin menguat untuk mendorong kesepakatan darurat. Pemantauan situasi ini krusial, mengingat implikasi global terhadap stabilitas dolar dan perdagangan internasional.