JAKARTA – Divisi Propam Polri akan mulai menggelar sidang etik terhadap sejumlah anggota kepolisian yang terlibat dalam kasus dugaan pemerasan terhadap warga negara Malaysia dalam acara Djakarta Warehouse Project (DWP) per hari ini, Selasa (31/12).
“Benar, sesuai komitmen pimpinan Polri, Divisi Propam Polri telah mengambil langkah tegas, dan hari ini dimulai sidang etiknya,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divhumas Polri Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko saat ditemui di Jakarta, Selasa (31/12).
Trunoyudo menjelaskan, sidang tersebut akan dilaksanakan secara simultan dan berkelanjutan karena ada 18 oknum polisi yang diamankan terkait kasus ini.
Belasan personel polisi yang terlibat tersebut berasal dari Kepolisian Daerah Metro Jaya, Kepolisian Resor Metro Jakarta Pusat, dan Kepolisian Sektor Metro Kemayoran. Selain itu, sidang etik ini juga akan dipantau oleh Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas).
Anggota Kompolnas, Muhammad Choirul Anam, memberikan apresiasi atas komitmen Kadiv Propam Polri Irjen Pol. Abdul Karim yang melibatkan Kompolnas dalam penanganan kasus ini.
“Kami mendapatkan undangan dan kami hadir, dan ini akan kami kawal prosesnya. Tentu saja koridor yang kemarin kami klarifikasi dengan paminal itu menjadi suatu pegangan kami,” ungkapnya.
Sebelumnya, Irjen Pol. Abdul Karim mengungkapkan bahwa belasan oknum polisi tersebut kini ditempatkan di Divisi Propam Mabes Polri dan akan menjalani sidang etik dalam minggu ini. Karim juga menjelaskan bahwa terdapat 45 korban dalam kasus ini, dengan dua di antaranya adalah warga negara Malaysia yang melapor secara resmi ke Divisi Propam Polri.
“Jadi, dari hasil penyelidikan yang sudah kami lakukan, perlu kami luruskan bahwa korban warga negara Malaysia dari penyelidikan dan identifikasi kami secara scientific, kami temukan sebanyak 45 orang,” tambahnya.
Karim juga mengklarifikasi bahwa barang bukti yang berhasil diamankan dalam kasus ini mencapai Rp2,5 miliar.
Sebelumnya, akun X @Twt_Rave mengunggah informasi yang menyebutkan bahwa lebih dari 400 penonton dari Malaysia ditangkap dan diperas oleh oknum polisi.
Dalam unggahannya, akun tersebut juga mengklaim bahwa penonton terpaksa membayar meskipun hasil tes urine mereka negatif.