JAKARTA – Pemerintah Polandia melalui Kementerian Luar Negeri mengeluarkan peringatan mendesak kepada seluruh warga negaranya untuk segera meninggalkan Iran. Seruan ini muncul menyusul memburuknya situasi keamanan akibat gelombang demonstrasi anti-pemerintah yang semakin meluas dan keras di berbagai wilayah negara tersebut.
“Kementerian Luar Negeri mendesak agar segera meninggalkan Iran dan menyarankan untuk tidak melakukan perjalanan ke negara ini,” tulis pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Polandia melalui akun X resminya, seperti dilansir Al Arabiya dan Reuters, Kamis (15/1/2026).
Langkah serupa sebelumnya telah diambil oleh Italia. Pada Rabu (14/1/2026) waktu setempat, Kementerian Luar Negeri Italia kembali memperkuat imbauan agar warganya segera keluar dari Iran menyusul kondisi keamanan yang terus memburuk. Pemerintah Italia mencatat sekitar 600 warganya masih berada di Iran, dengan mayoritas menetap di ibu kota Teheran.
Peringatan dari dua negara Eropa tersebut semakin menegaskan kekhawatiran komunitas internasional terhadap situasi di Iran. Demonstrasi anti-pemerintah yang pecah sejak akhir Desember 2025 telah berkembang menjadi gerakan massa terbesar dalam beberapa tahun terakhir, dengan tuntutan perubahan politik mendasar hingga penggulingan rezim.
Di tengah eskalasi tersebut, otoritas Iran mengambil langkah ekstrem dengan menutup sementara wilayah udaranya untuk sebagian besar penerbangan. Berdasarkan pemberitahuan resmi yang dilansir Anadolu Agency pada Kamis (15/1/2026), penutupan ini berlaku mulai hari ini dan hanya mengizinkan penerbangan sipil internasional tertentu yang telah memperoleh izin khusus dari otoritas penerbangan sipil Iran.
“Pembatasan ini mencakup seluruh lalu lintas udara masuk dan keluar Iran, sementara semua penerbangan lainnya ditangguhkan,” demikian bunyi pernyataan tersebut. Hingga kini, durasi penutupan wilayah udara belum diumumkan, sehingga menimbulkan ketidakpastian bagi warga negara asing yang berupaya meninggalkan Iran.
Situasi kian kompleks dengan laporan internasional mengenai kekerasan berat terhadap demonstran, termasuk dugaan penggunaan senjata api secara masif oleh aparat keamanan. Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan telah menerima informasi dari sumber penting bahwa pembunuhan terhadap demonstran telah dihentikan.
Trump menegaskan bahwa Washington akan terus memantau perkembangan situasi dengan ketat. Sebelumnya, ia berulang kali menyatakan dukungan terhadap para pengunjuk rasa dan memperingatkan bahwa Amerika Serikat siap mengambil “tindakan yang sangat keras” apabila eksekusi terhadap demonstran terus berlanjut.
Ketegangan domestik dan regional ini memicu kekhawatiran akan potensi intervensi militer asing, meskipun sejumlah negara, termasuk Arab Saudi, menyatakan tidak akan mengizinkan wilayahnya digunakan untuk serangan terhadap Iran.
Pemerintah Iran sendiri menyalahkan faktor eksternal atas kerusuhan yang terjadi. Sementara itu, para aktivis hak asasi manusia melaporkan ribuan korban jiwa serta penangkapan massal. Situasi di Iran masih sangat dinamis dan berpotensi memburuk, mendorong negara-negara Barat mengambil langkah perlindungan bagi warga negaranya.